Cinta,
Demi kamu selalu ada saat-saat pertama, dan karena kamu pula hadir saat-saat terakhir. Dengan kamu sapa pertama tidak ingin dilupakan, dan supaya kamu selamat tinggal terakhir ingin segera tergantikan.
Bukan sebabmu dunia ini berputar, tapi berkatmu putaran itu terasa berharga dan ada asa.
Atas namamu pengorbanan terangkat derajatnya menjadi pengabdian tanpa hitung-hitungan.
Penantian yang menyiksa dan perjumpaan yang buat merana. Perpisahan yang indah dan pertengkaran yang bawa gairah.
Sebegitunya dirimu rumit untuk dimengerti, tapi puisi tentangmu selalu penuh puja-puji dan sarat caci-maki. Tanpamu, lagu-lagu tak bernada, kata-kata kehilangan makna, warna-warna pupus cahaya.
Surat cinta ini untukmu, cinta, yang membuat baris-baris ini ada. Selamat bermalam Minggu dan mengisi sunyi para perindu.
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Februari 2011
Jumat, 11 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Sembilan: Untuk Penyelamatku)
Sudah lama kita tidak bicara. Benar-benar bicara. Saling bertukar suara. Saling mengisi hampa.
Aku hanya berharap kamu baik-baik saja.
Oh ya, dan aku masih berharap satu hari nanti kamu mengajakku terbang lagi dalam pelukmu yang hangat, tempat yang paling nyaman untuk tangisku beristirahat.
Untukmu, selalu tersimpan terima kasih dalam amplop merah jambu yang terselip pada setiap tiupan kecupku.
Aku hanya berharap kamu baik-baik saja.
Oh ya, dan aku masih berharap satu hari nanti kamu mengajakku terbang lagi dalam pelukmu yang hangat, tempat yang paling nyaman untuk tangisku beristirahat.
Untukmu, selalu tersimpan terima kasih dalam amplop merah jambu yang terselip pada setiap tiupan kecupku.
Kamis, 10 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Delapan: Untuk Sendiri)
Bukan surat cinta untuk diri sendiri – tapi untuk saat sedang sendiri. Kesendirian yang tidak sepi.
Karena ‘sendiri’ adalah hakiki, dan ‘kesepian’ adalah hal yang berbeda lagi – ia adalah bagaimana kesendirian itu tidak dinikmati. Sebenarnya dalam waktu aku yang sedang satu itu nikmat sekali dapat mencipta karya, mengolah talenta, berkaca, berbicara suka-suka, mengamini karunia.
Jadi seorang diri adalah waktu memperbaiki relasi dengan jiwa dan koneksi dengan sukma. Introspeksi lewat memori lalu bercakap dengan Sang Pencipta yang berdiam dalam hati.
Dan aku masih diberi kesempatan untuk mengucap syukur hari ini. Sendiri. Tanpa tetapi. Indah sekali.
Karena ‘sendiri’ adalah hakiki, dan ‘kesepian’ adalah hal yang berbeda lagi – ia adalah bagaimana kesendirian itu tidak dinikmati. Sebenarnya dalam waktu aku yang sedang satu itu nikmat sekali dapat mencipta karya, mengolah talenta, berkaca, berbicara suka-suka, mengamini karunia.
Jadi seorang diri adalah waktu memperbaiki relasi dengan jiwa dan koneksi dengan sukma. Introspeksi lewat memori lalu bercakap dengan Sang Pencipta yang berdiam dalam hati.
Dan aku masih diberi kesempatan untuk mengucap syukur hari ini. Sendiri. Tanpa tetapi. Indah sekali.
Rabu, 09 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Tujuh: Untuk yang Bersembunyi di Balik Rasa Takut)
Ini kuulurkan tanganku supaya kamu lebih berani. Hidup dalam kekuatiran dan rasa takut berlebihan tidak akan membawamu ke mana-mana. Lalu buat apa kamu hidup kalau diam di tempat saja? Sesungguhnya semua yg dilakukan dengan hati rasanya nikmat sekali. Ayo dengarkan hati dan jadilah pemberani!
Selasa, 08 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Enam: Untuk Siapa yang Merasa)
Ini hanya sekedar catatan pendek saja. Bolehlah kau bilang surat cinta, kalau kau merasa sedemikian rupa.
Andaikan rasa itu bisa ditakar – seberapa besar kita mencinta, dan seberapa dalam kita menyimpan benci, mungkin sudah ada ilmuwan yang mendapatkan nobel dengan menciptakan formula menjalankan hubungan asmara. Bisakah dua sendok makan cemburu dicampur satu galon rindu menghasilkan cinta seluas samudera? Ataukah lima cangkir kecewa diaduk rata dengan sejumput curiga menjadikan benci semalam saja?
Hei, tidak ada rumus untuk membentuk emosi. Tidak ada penggaris yang mengukur dalamnya hati. Rasa tak dapat terdefinisi oleh angka, bila itu maumu. Dan satu lagi, kita tidak bisa memilih bagaimana inginnya merasa pada satu keadaan, tapi kita selalu bisa memilih bagaimana menyikapi perasaan yang kita simpan.
Sekian dan demikian.
Andaikan rasa itu bisa ditakar – seberapa besar kita mencinta, dan seberapa dalam kita menyimpan benci, mungkin sudah ada ilmuwan yang mendapatkan nobel dengan menciptakan formula menjalankan hubungan asmara. Bisakah dua sendok makan cemburu dicampur satu galon rindu menghasilkan cinta seluas samudera? Ataukah lima cangkir kecewa diaduk rata dengan sejumput curiga menjadikan benci semalam saja?
Hei, tidak ada rumus untuk membentuk emosi. Tidak ada penggaris yang mengukur dalamnya hati. Rasa tak dapat terdefinisi oleh angka, bila itu maumu. Dan satu lagi, kita tidak bisa memilih bagaimana inginnya merasa pada satu keadaan, tapi kita selalu bisa memilih bagaimana menyikapi perasaan yang kita simpan.
Sekian dan demikian.
Senin, 07 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Lima: Untuk Hatiku yang Pilu)
Hatiku sayang,
Maafkan keteledoranku pagi tadi yang membuatmu tersungkur dengan pilu. Berawal dari rasa ingin tahu melihat video itu, aku tidak tahan membuka tautannya, dan akhirnya kamu harus merasa perihnya melihat manusia kehilangan kemanusiaannya. Tolong sampaikan maafku juga untuk kedua mata, Sayang. Mereka sempat tersedu ketika emosiku ikut membuncah. Tapi terlebih aku kuatirkan kamu, hatiku. Betapa kamu tidak kuat melihat ketertindasan, anarki, dan kebiadaban. Mendengar makian saja kamu terenyuh, apalagi harus menyaksikan ini yang beribu-ribu kali lipat lebih menghantam sukma. Kasihan kamu, hatiku, harus melihat bagaimana Tuhan yang sebetulnya tidak perlu dibela malah jadi alasan untuk menyiksa dan menghilangkan nyawa. Ke mana nurani mereka, aku juga tidak tahu. Entah bagaimana mereka bisa tidak punya hati begitu. Di bawah pengaruh substansi tertentu? Telah dicuci otak? Terhimpit keadaan dan tidak punya pilihan lain? Atau sesungguhnya mereka memang betul-betul bukan manusia? Mari kita berdoa malam ini, hatiku. Bukan hanya untuk korban yang teraniaya, tetapi juga untuk mereka yang semena-mena. Mari berdoa untuk jiwa mereka semua, dan membiarkan Tuhan yang jadi hakimnya.
Hatiku sayang,
Semoga malam ini kamu sudah baik-baik saja setelah kuajak bertamasya dan berkarya. Aku tahu, dibalik permukaanmu yang rentan itu kamu menyimpan kekuatan dan ketangguhan. Masih tersimpan banyak kasih di dalammu yang akan kubagi-bagi untuk sesama makhluk hidup. Semoga benih yang kita tebar itu bisa membuat penghuni bumi yang lain ikut menyebarkan cinta dan ketulusan. Karena dunia ini sudah terlalu gelap akan kedengkian. Mari kita mulai dari diri sendiri, Sayang. Karena setidaknya itulah yang bisa kita lakukan.
Penuh harapan,
Aku.
Maafkan keteledoranku pagi tadi yang membuatmu tersungkur dengan pilu. Berawal dari rasa ingin tahu melihat video itu, aku tidak tahan membuka tautannya, dan akhirnya kamu harus merasa perihnya melihat manusia kehilangan kemanusiaannya. Tolong sampaikan maafku juga untuk kedua mata, Sayang. Mereka sempat tersedu ketika emosiku ikut membuncah. Tapi terlebih aku kuatirkan kamu, hatiku. Betapa kamu tidak kuat melihat ketertindasan, anarki, dan kebiadaban. Mendengar makian saja kamu terenyuh, apalagi harus menyaksikan ini yang beribu-ribu kali lipat lebih menghantam sukma. Kasihan kamu, hatiku, harus melihat bagaimana Tuhan yang sebetulnya tidak perlu dibela malah jadi alasan untuk menyiksa dan menghilangkan nyawa. Ke mana nurani mereka, aku juga tidak tahu. Entah bagaimana mereka bisa tidak punya hati begitu. Di bawah pengaruh substansi tertentu? Telah dicuci otak? Terhimpit keadaan dan tidak punya pilihan lain? Atau sesungguhnya mereka memang betul-betul bukan manusia? Mari kita berdoa malam ini, hatiku. Bukan hanya untuk korban yang teraniaya, tetapi juga untuk mereka yang semena-mena. Mari berdoa untuk jiwa mereka semua, dan membiarkan Tuhan yang jadi hakimnya.
Hatiku sayang,
Semoga malam ini kamu sudah baik-baik saja setelah kuajak bertamasya dan berkarya. Aku tahu, dibalik permukaanmu yang rentan itu kamu menyimpan kekuatan dan ketangguhan. Masih tersimpan banyak kasih di dalammu yang akan kubagi-bagi untuk sesama makhluk hidup. Semoga benih yang kita tebar itu bisa membuat penghuni bumi yang lain ikut menyebarkan cinta dan ketulusan. Karena dunia ini sudah terlalu gelap akan kedengkian. Mari kita mulai dari diri sendiri, Sayang. Karena setidaknya itulah yang bisa kita lakukan.
Penuh harapan,
Aku.
Minggu, 06 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Empat: Untuk yang Membuatku Menangis)
Air mataku memang sudah kering malam ini. Sudah kubasuh wajahku dan kulenyapkan jejak deraian di pipi. Sepertinya luka di hati ini juga tidak akan pedih lebih lama lagi. Karena aku percaya, kamu yang bekerja sama dengan waktu akan membuatnya pulih dan berseri.
Aku bahagia karena kita bisa selalu berbicara. Berdiskusi, lalu saling mengerti dan menerima. Mustahil memang kalau berharap semua buah pikiran dan pendapat akan sama. Justru perbedaan itu yang membuat kita merasa kaya.
Sudah, sudah, aku sudah tidak menangis lagi. Yang sudah terjadi tidak usah disesali. Friksi kita akan selalu jadi jembatan untuk saling mengenali, dan bahan pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi di masa depan nanti. Nah, sekarang kemarilah, genggam tanganku lalu dekap di hati. Tapi jangan terlalu kencang, nanti aku menangis lagi.
Aku bahagia karena kita bisa selalu berbicara. Berdiskusi, lalu saling mengerti dan menerima. Mustahil memang kalau berharap semua buah pikiran dan pendapat akan sama. Justru perbedaan itu yang membuat kita merasa kaya.
Sudah, sudah, aku sudah tidak menangis lagi. Yang sudah terjadi tidak usah disesali. Friksi kita akan selalu jadi jembatan untuk saling mengenali, dan bahan pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi di masa depan nanti. Nah, sekarang kemarilah, genggam tanganku lalu dekap di hati. Tapi jangan terlalu kencang, nanti aku menangis lagi.
Sabtu, 05 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Tiga: Untuk yang Membuat Hatiku Bernyanyi)
Aku kehabisan kata-kata untuk surat cinta buatmu malam ini. Tapi kata orang, sebuah gambar bisa mengungkap seribu kata. Jadi, ini kugambar untukmu. Tentangmu.
Jumat, 04 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Dua: Untuk Cupid)
Sepuluh hari lagi, Cupid. Di tanggal 14 nanti waktu kasih sayang dirayakan dan jadi objek komersial paling menjual, kamu akan dipuja di mana-mana. Sudah siapkah anak-anak panah cintamu itu kauasah? Pastikan bidikanmu masih mantap dan busurmu masih lentur. Akan ada banyak anak manusia yang menagih asmara. Mereka akan mencari merah muda dan memetik bunga-bunga.
Tapi tunggu, akan ada lagi sebagian yan mencemoohmu. Mereka bilang seharusnya cinta dirayakan setiap hari. Entah alasannya karena memang ingin berbeda saja, tidak tahu mau merayakan dengan siapa, atau memang setulusnya begitu yang mereka percaya. Untuk mereka tanggal 14 Februari bukan tanggal yang istimewa.
Tapi jangan berkecil hati, Cupid. Surat cinta ini kukirimkan supaya kamu tetap semangat bekerja. Aku berada di tengah-tengah, di antara dua kubu mereka. Ya, memang kasih sayang harusnya terungkapkan setiap hari. Tetapi kadang terlalu sibuknya manusia tiap hari mencari sesuap nasi, mereka lupa dan tak punya waktu untuk bercinta. Jadi buatku, biarlah Hari Kasih Sayang tetap dirayakan sebagai pengingat akan pentingnya berbagi sesama makhluk-Nya.
Giatlah berlatih memanah, Cupidku, supaya tepat selalu bidikanmu. Sampai sepuluh hari lagi kita masih punya waktu. Sampai hari itu tiba, setiap malam aku masih akan giat menulis surat cinta, puisi penuh rasa, dan prosa sarat romansa.
Tapi tunggu, akan ada lagi sebagian yan mencemoohmu. Mereka bilang seharusnya cinta dirayakan setiap hari. Entah alasannya karena memang ingin berbeda saja, tidak tahu mau merayakan dengan siapa, atau memang setulusnya begitu yang mereka percaya. Untuk mereka tanggal 14 Februari bukan tanggal yang istimewa.
Tapi jangan berkecil hati, Cupid. Surat cinta ini kukirimkan supaya kamu tetap semangat bekerja. Aku berada di tengah-tengah, di antara dua kubu mereka. Ya, memang kasih sayang harusnya terungkapkan setiap hari. Tetapi kadang terlalu sibuknya manusia tiap hari mencari sesuap nasi, mereka lupa dan tak punya waktu untuk bercinta. Jadi buatku, biarlah Hari Kasih Sayang tetap dirayakan sebagai pengingat akan pentingnya berbagi sesama makhluk-Nya.
Giatlah berlatih memanah, Cupidku, supaya tepat selalu bidikanmu. Sampai sepuluh hari lagi kita masih punya waktu. Sampai hari itu tiba, setiap malam aku masih akan giat menulis surat cinta, puisi penuh rasa, dan prosa sarat romansa.
Kamis, 03 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Satu: Untuk Kamu yang Belum Kembali)
Cepat pulang, Sayang. Karena Opera Van Java tidak sama rasanya kalau kamu tidak ada. Sule tidak selucu waktu aku menontonnya sambil dirangkul kamu!
Rabu, 02 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh: Untuk Kembang Api Malam Ini)
Terima kasih sudah mewarnai langit dengan ledakanmu sesaat tadi, warna-warnimu menyemat bunga pada kelamnya angkasa. Pecahanmu di udara kunikmati dari balkon sendiri saja. Entah siapa lagi, entah di mana, yang menegadah dengan rasa yang sama – berpikir serupa saat percikmu mekar bergema. Sepi jugakah mereka?
Sekejap kamu mengingatkan bahwa sejatinya semua di dunia hanya sementara. Seperti cahayamu yang menyala lalu hilang dan terlupa.
Selamat tahun baru kelinci untuk kamu yang diletuskan untuk merayakannya!
Sekejap kamu mengingatkan bahwa sejatinya semua di dunia hanya sementara. Seperti cahayamu yang menyala lalu hilang dan terlupa.
Selamat tahun baru kelinci untuk kamu yang diletuskan untuk merayakannya!
Selasa, 01 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Sembilan Belas: Untuk Bayangan Lelakiku)
Hei.
Sepertinya aku harus menulis surat cinta sendiri untuk kamu, bayangan lelakiku. Karena walaupun dia sedang tidak di sampingku, bahkan ribuan mil jauhnya, kamu selalu mengikutiku. Di kamar mandi waktu aku membasuh diri, di dalam cermin waktu aku berdandan pagi-pagi, di dalam piring waktu aku menyantap nasi, di pelupuk mata waktu aku menjemput mimpi, bahkan di layar komputer waktu aku mengetik ini. Kamu di mana-mana!
Aku sadar aku tidak bisa lepas darimu waktu aku mulai jatuh cinta padanya. Bilang saja aku gila. Mungkin aku memang tergila-gila. Tidak waras, tidak berakal sehat, tidak berlogika. Tapi daripada aku berusaha menghindarimu dan semakin tersiksa, aku telah sampai pada titik ‘menerima’. Rela aku diusik kamu di mana-mana, kalau memang beginilah gejala rindu serindu-rindunya. Toh dia yang di sana mengaku tak bisa lepas dari bayang-bayangku juga. Ketika kami tidak saling membayangkan itulah seharusnya aku mulai curiga. Jadi sekarang kehadiranmu di tiap hembusan nafas kunikmati saja.
Malam ini, kamu menemaniku sambil menyeruput cokelat hangat. Mengingat jejak kecupnya di bibirku yang masih lekat.
Sepertinya aku harus menulis surat cinta sendiri untuk kamu, bayangan lelakiku. Karena walaupun dia sedang tidak di sampingku, bahkan ribuan mil jauhnya, kamu selalu mengikutiku. Di kamar mandi waktu aku membasuh diri, di dalam cermin waktu aku berdandan pagi-pagi, di dalam piring waktu aku menyantap nasi, di pelupuk mata waktu aku menjemput mimpi, bahkan di layar komputer waktu aku mengetik ini. Kamu di mana-mana!
Aku sadar aku tidak bisa lepas darimu waktu aku mulai jatuh cinta padanya. Bilang saja aku gila. Mungkin aku memang tergila-gila. Tidak waras, tidak berakal sehat, tidak berlogika. Tapi daripada aku berusaha menghindarimu dan semakin tersiksa, aku telah sampai pada titik ‘menerima’. Rela aku diusik kamu di mana-mana, kalau memang beginilah gejala rindu serindu-rindunya. Toh dia yang di sana mengaku tak bisa lepas dari bayang-bayangku juga. Ketika kami tidak saling membayangkan itulah seharusnya aku mulai curiga. Jadi sekarang kehadiranmu di tiap hembusan nafas kunikmati saja.
Malam ini, kamu menemaniku sambil menyeruput cokelat hangat. Mengingat jejak kecupnya di bibirku yang masih lekat.
Senin, 31 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Delapan Belas: Untuk Sisi Ranjang yang Kosong)
Aku murung, tidak suka tidur sendiri. Tidak ada dia waktu menoleh ke kiri. Tidak ada saling rebut selimut. Tidak ada saling jajah wilayah. Ranjang ini terlalu luas untuk tanpa dia kutiduri.
Wahai sisi ranjang yang kosong, izinkan aku mengendus sisa baunya darimu. Sebentar saja, untuk obati rindu.
Wahai sisi ranjang yang kosong, izinkan aku mengendus sisa baunya darimu. Sebentar saja, untuk obati rindu.
Minggu, 30 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Tujuh Belas: Untuk 20-08-2008)
Untuk Rabu, 20 Agustus 2008.
Aku cinta kamu, Rabu yang tidak kelabu. Senja itu pertama kali aku dan dia bertemu. Muka bertatap muka. Aura berjumpa aura. Masing-masih mengucap dalam batin, “Oh, ini dia wujud aslinya”. Setelah setahun bercakap lewat kata-kata yang terketik saja. Belum ada rasa hari itu, tentu saja. Toh aku pun masih ada yang punya.
Betapa ironisnya, Rabu, di tanggal yang dulu terencana sebagai tanggal cantik aku disunting lelaki lain, Sang Esa mempertemukanku dengan dia yang sekarang terbaik untukku. Aku ingat kamu, Rabu. Hari itu aku melihat senyumnya pertama kali. Melihat bibirnya menciptakan suara saat bercerita, dalam perjalanan menemuiku hari itu topi kesayangannya terjatuh dan hilang. Dan aku menandai kamu sebagai hari pertama aku bimbang.
Hari-hari setelah kamu, Rabu, saat aku jauh dari Tanah Air dimulailah proses lahir dan batin menuju keputusan besar dalam hidupku. Pengalaman dan pelajaran baru yang penuh berkat dari-Nya membuka sekat-sekat baru dalam pikiran, menuntunku pada sebuah babak baru. Dan akhirnya aku mengerti, saat kamu datang itu aku memang dipertemukan dengannya untuk mencegahku kembali jatuh ke lubang yang sama lagi, untuk yang ke-sekian kali. Kembali aku amini, tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan.
Sudah lebih dari dua tahun sejak kamu, Rabu. Aku bersyukur sampai sekarang tanggal yang sama masih kurayakan bersama dia. Semoga perjalanan kami bersama akan berlangsung lama. Terus, terus, terus tanpa putus.
Terima kasih, Rabu 20 Agustus 2008. Kamu hari pertama kami bertemu.
Aku cinta kamu, Rabu yang tidak kelabu. Senja itu pertama kali aku dan dia bertemu. Muka bertatap muka. Aura berjumpa aura. Masing-masih mengucap dalam batin, “Oh, ini dia wujud aslinya”. Setelah setahun bercakap lewat kata-kata yang terketik saja. Belum ada rasa hari itu, tentu saja. Toh aku pun masih ada yang punya.
Betapa ironisnya, Rabu, di tanggal yang dulu terencana sebagai tanggal cantik aku disunting lelaki lain, Sang Esa mempertemukanku dengan dia yang sekarang terbaik untukku. Aku ingat kamu, Rabu. Hari itu aku melihat senyumnya pertama kali. Melihat bibirnya menciptakan suara saat bercerita, dalam perjalanan menemuiku hari itu topi kesayangannya terjatuh dan hilang. Dan aku menandai kamu sebagai hari pertama aku bimbang.
Hari-hari setelah kamu, Rabu, saat aku jauh dari Tanah Air dimulailah proses lahir dan batin menuju keputusan besar dalam hidupku. Pengalaman dan pelajaran baru yang penuh berkat dari-Nya membuka sekat-sekat baru dalam pikiran, menuntunku pada sebuah babak baru. Dan akhirnya aku mengerti, saat kamu datang itu aku memang dipertemukan dengannya untuk mencegahku kembali jatuh ke lubang yang sama lagi, untuk yang ke-sekian kali. Kembali aku amini, tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan.
Sudah lebih dari dua tahun sejak kamu, Rabu. Aku bersyukur sampai sekarang tanggal yang sama masih kurayakan bersama dia. Semoga perjalanan kami bersama akan berlangsung lama. Terus, terus, terus tanpa putus.
Terima kasih, Rabu 20 Agustus 2008. Kamu hari pertama kami bertemu.
Sabtu, 29 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Enam Belas: Untuk Siapa?)
Untuk yang pernah mampir di hati lalu angkat kaki.
Ini bukan surat cinta biasa. Ini surat pernah cinta, karena dulu ada rasa tapi sekarang sudah tidak ada. Bukan juga untuk menggali yang pernah ditimbun, tetapi memupuk yang sekarang ditanam. Kamu, kamu, kamu, dan kamu.. Eh tunggu, aku lupa menghitung surat ini untuk siapa saja. Yah, sebut saja kalian. Kalian setuju kan, masa lalu itu sudah tertimbun dan bibit baru sudah tertanam?
Ini hanya sekedar ucapan terima kasih atas pelajaran yang telah diberikan. Aku mendewasa melewati masa dengan masing-masing kalian. Setiap pelajaran berakhir dengan ujian, dan aku lulus lalu naik tingkat sampai sekarang yang ke-sekian. Kalian bukan kegagalan, bukan pula batu loncatan, tetapi bagian dari hidup sebagai kurikulum pendidikan. Makin lama aku makin mengerti hati dan perasaan. Sekali lagi terima kasih, para mantan.
Surat pernah cinta ini cukup sekian dan demikian. Aku tidak mau pasangan kalian sekarang keburu cemburu.
Dari aku, yang sudah tidak seperti yang dulu.
Ini bukan surat cinta biasa. Ini surat pernah cinta, karena dulu ada rasa tapi sekarang sudah tidak ada. Bukan juga untuk menggali yang pernah ditimbun, tetapi memupuk yang sekarang ditanam. Kamu, kamu, kamu, dan kamu.. Eh tunggu, aku lupa menghitung surat ini untuk siapa saja. Yah, sebut saja kalian. Kalian setuju kan, masa lalu itu sudah tertimbun dan bibit baru sudah tertanam?
Ini hanya sekedar ucapan terima kasih atas pelajaran yang telah diberikan. Aku mendewasa melewati masa dengan masing-masing kalian. Setiap pelajaran berakhir dengan ujian, dan aku lulus lalu naik tingkat sampai sekarang yang ke-sekian. Kalian bukan kegagalan, bukan pula batu loncatan, tetapi bagian dari hidup sebagai kurikulum pendidikan. Makin lama aku makin mengerti hati dan perasaan. Sekali lagi terima kasih, para mantan.
Surat pernah cinta ini cukup sekian dan demikian. Aku tidak mau pasangan kalian sekarang keburu cemburu.
Dari aku, yang sudah tidak seperti yang dulu.
Jumat, 28 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Lima Belas: Untuk Cokelat Hangat di Sudut Bibirmu)
Hei, kamu.
Tolong sampaikan surat ini untuk setitik cokelat hangat yang tersisa di sudut bibirmu itu. Manisnya membuatku bernafsu. Ingin aku mengecapnya dengan ujung lidahku. Setelah itu, sebenarnya terserah kamu, mau mengejarnya kembali dengan lidahmu di antara liur dalam mulutku, atau membiarkan aku meracik segelas lagi cokelat hangat untuk kutuliskan surat cinta.
Aku yang gemas mengulum bibir sendiri.
Tolong sampaikan surat ini untuk setitik cokelat hangat yang tersisa di sudut bibirmu itu. Manisnya membuatku bernafsu. Ingin aku mengecapnya dengan ujung lidahku. Setelah itu, sebenarnya terserah kamu, mau mengejarnya kembali dengan lidahmu di antara liur dalam mulutku, atau membiarkan aku meracik segelas lagi cokelat hangat untuk kutuliskan surat cinta.
Aku yang gemas mengulum bibir sendiri.
Kamis, 27 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Empat Belas: Untuk Pasir di Kakiku)
Kamu mungkin tidak tahu, betapa rindu aku merasamu menyusupi sela-sela jemari kakiku. Sampai tadi kita berjumpa lagi di Pantai Geger. Kamu yang hangat terpanggang mentari menyambut telapakku yang telanjang. Lembut sangat. Kukira tadi pertemuan kita singkat sekali, terpotong hujan yang nyaris tidak berhenti. Tetapi malam ini saat aku beranjak tidur dan cuci kaki, kutemukan sebutirmu terselip di bawah kuku. Oh, ternyata kamu pun berat melepasku. Malam ini aku akan lelap karena ternyata cinta ini tidak bertepuk sebelah tangan.
Rabu, 26 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Tiga Belas: Untuk.. Ah, Lagi-Lagi Kamu)
Hebat!
Lagi-lagi kamu yang mengalirkan energi dari hati dan otakku beriring-iringan. Energi yang menuju ujung jemari membuat ungkapan perasaan menjadi barisan kalimat pernyataan: surat cinta. Diberi makan apa sih kamu waktu kecil sama ibumu, kok bisa hebat begitu? Rasanya ini ya, padamu, seperti kena guna-guna. Walaupun aku tahu kenyataannya tidak begitu, karena bagaimanapun kau mantrai aku, ‘dukun’ Yang Mahaagung itu kupercayai lebih hebat dari dukunmu!
Dia Yang Mahahebat itu yang mempertemukan garis hidup kita di persimpangan jalan. Aku percaya, tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan. Nah, itu yang aku pertanyakan. Untuk apa rasa sehebat ini Dia ciptakan? Bila setiap orang ditiupkan nafas kehidupan untuk suatu tujuan, bagaimana dengan kita? Dua manusia yang saling jatuh hati dipersatukan atas nama cinta. Untuk apa?
Aku mengagumimu untuk setiap karya yang kaucipta. Aku menghormati tiap sumbangsihmu pada sesama. Aku mengherani buah pikiranmu yang tidak biasa. Aku terpesona tubuhmu yang menggoda. Tapi jangan tanyakan alasanku jatuh cinta, aku tidak punya jawabannya.
Jadi sayangku, kalau boleh sedikit kutarik kesimpulan malam ini. Yang kutahu, sejak bertemu kamu, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik. Dan kalau senyatanya kamu tidak diciptakan untuk bersanding denganku sampai nafas yang terakhir terhembus dari mulutku, kenanglah ini: aku bersyukur Dia pernah mempertemukan kita dan mengizinkanku mencicipi bahagia – apapun tujuanNya.
Lagi-lagi kamu yang mengalirkan energi dari hati dan otakku beriring-iringan. Energi yang menuju ujung jemari membuat ungkapan perasaan menjadi barisan kalimat pernyataan: surat cinta. Diberi makan apa sih kamu waktu kecil sama ibumu, kok bisa hebat begitu? Rasanya ini ya, padamu, seperti kena guna-guna. Walaupun aku tahu kenyataannya tidak begitu, karena bagaimanapun kau mantrai aku, ‘dukun’ Yang Mahaagung itu kupercayai lebih hebat dari dukunmu!
Dia Yang Mahahebat itu yang mempertemukan garis hidup kita di persimpangan jalan. Aku percaya, tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan. Nah, itu yang aku pertanyakan. Untuk apa rasa sehebat ini Dia ciptakan? Bila setiap orang ditiupkan nafas kehidupan untuk suatu tujuan, bagaimana dengan kita? Dua manusia yang saling jatuh hati dipersatukan atas nama cinta. Untuk apa?
Aku mengagumimu untuk setiap karya yang kaucipta. Aku menghormati tiap sumbangsihmu pada sesama. Aku mengherani buah pikiranmu yang tidak biasa. Aku terpesona tubuhmu yang menggoda. Tapi jangan tanyakan alasanku jatuh cinta, aku tidak punya jawabannya.
Jadi sayangku, kalau boleh sedikit kutarik kesimpulan malam ini. Yang kutahu, sejak bertemu kamu, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik. Dan kalau senyatanya kamu tidak diciptakan untuk bersanding denganku sampai nafas yang terakhir terhembus dari mulutku, kenanglah ini: aku bersyukur Dia pernah mempertemukan kita dan mengizinkanku mencicipi bahagia – apapun tujuanNya.
Selasa, 25 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Belas: Untuk Kupu-Kupu dalam Perutku)
Wahai Kupu-Kupu,
Terima kasih sudah hadir lagi malam ini, menggelepar-gelepar dalam perutku. Aku suka kamu, dan rasa yang kauciptakan waktu aku terpesona, lalu jatuh cinta malu-malu.
Aku yang kini tersipu-sipu.
Terima kasih sudah hadir lagi malam ini, menggelepar-gelepar dalam perutku. Aku suka kamu, dan rasa yang kauciptakan waktu aku terpesona, lalu jatuh cinta malu-malu.
Aku yang kini tersipu-sipu.
Senin, 24 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Sebelas: Untuk Langit)
Untuk: Langit.
Sesungguhnya ini adalah surat pengakuan cinta untukmu, bagaimana kusimpan kekaguman padamu yang elok. Menengadah dan menikmati yang tersaji amatlah seronok.
Merahmu di mekarnya fajar yang mengiring kokok Sang Jago memanggilku untuk mengucap syukur akan datangnya hari baru. Lalu naiknya Mentari menuntun barisan awan yang menggoda imajinasi. Aku berani sumpah, kadang kulihat awan mengikuti bentuknya sejoli yang sedang bercinta. Romantis sekali. Langit yang terindah, aku ikut murung ketika kamu kelabu dan mendung. Ikut sedih ketika kamu menangis, merajuk, dan mengamuk dengan kilat dan guntur. Tapi Bunda Alam dan Ibu Bumi tentu memberi waktumu untuk menurunkan hujan bukan tanpa alasan, bukan? Karena sehabis itu kamu pasti menghiburku dengan mahakarya pelangi. Belum lagi jingganya senja. Sedari kecil yang kupuja lukisan wajahmu yang merona mengantar kawanan burung kembali ke Utara. Bahkan saat kamu menggelap pertanda malam, Langitku sayang. Saat gaunmu bersih, kupuja beludru itu yang berhias pendarnya bulan dan kilaunya gemintang.
Jadi, inilah surat pengakuan cinta untukmu. Siang tadi waktu aku dan lelakiku berbaring di rumput menikmati hamparan biru, kamulah yang sungguhnya mengisi hatiku.
Dari: Perempuan yang ingin terbang menciummu.
Sesungguhnya ini adalah surat pengakuan cinta untukmu, bagaimana kusimpan kekaguman padamu yang elok. Menengadah dan menikmati yang tersaji amatlah seronok.
Merahmu di mekarnya fajar yang mengiring kokok Sang Jago memanggilku untuk mengucap syukur akan datangnya hari baru. Lalu naiknya Mentari menuntun barisan awan yang menggoda imajinasi. Aku berani sumpah, kadang kulihat awan mengikuti bentuknya sejoli yang sedang bercinta. Romantis sekali. Langit yang terindah, aku ikut murung ketika kamu kelabu dan mendung. Ikut sedih ketika kamu menangis, merajuk, dan mengamuk dengan kilat dan guntur. Tapi Bunda Alam dan Ibu Bumi tentu memberi waktumu untuk menurunkan hujan bukan tanpa alasan, bukan? Karena sehabis itu kamu pasti menghiburku dengan mahakarya pelangi. Belum lagi jingganya senja. Sedari kecil yang kupuja lukisan wajahmu yang merona mengantar kawanan burung kembali ke Utara. Bahkan saat kamu menggelap pertanda malam, Langitku sayang. Saat gaunmu bersih, kupuja beludru itu yang berhias pendarnya bulan dan kilaunya gemintang.
Jadi, inilah surat pengakuan cinta untukmu. Siang tadi waktu aku dan lelakiku berbaring di rumput menikmati hamparan biru, kamulah yang sungguhnya mengisi hatiku.
Dari: Perempuan yang ingin terbang menciummu.
Langganan:
Postingan (Atom)
