dua jari yang menari ketika telapak tangan berpandu.
bergeraklah lebih cepat katanya
lanjutkan perlahan namun imbang
kemudian kembalilah cepat seiring nafasku yang berpendar
maka aku akan tiba di peraduan.
wahai lelaki yang bernafaskan api dan menangiskan es
akan kubisikkan malam ini, kularutkan wahai jemari.
bawa daku ke peraduan untuk kembali ke pelukan..
Puisi ke-17: Puisi dari A untuk saya. Hadiah istimewa.
Tampilkan postingan dengan label A. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 16 Oktober 2010
Senin, 20 September 2010
Lebih Dalam Tentang Pakaian Dalam
A
Saya suka melihat B memakai baju pilihan saya. Walaupun akhirnya waktu mau menikmati tubuhnya, bajunya kadang harus dibuka juga. Baju bisa jadi awal segalanya. Potongan tertentu bisa langsung memancing 'adik' saya berdiri. Namanya juga laki-laki.
Selain baju, pakaian dalam juga tentunya penting. Bentuk dan fungsinya harus bisa membuat lekuk perempuan terlihat semakin menggoda, tidak peduli harganya berapa, merknya apa, dan belinya di mana. Namanya juga lingerie.
Mari berbicara lebih dalam tentang pakaian dalam. Kado terakhir B untuk saya adalah sepasang bra dan panty merah muda yang dibelinya diam-diam dan dipakainya dengan elegan. Saya jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Menyetubuhinya malam itu, tidak perlu melepas si merah muda renda-renda. Namanya juga tergila-gila.
Kali lain, B memakai celana dalam sekali pakai yang dibelinya di toko serba ada. Katanya, "Masih sisa dari kemarin ke Bali. Sayang kalau ngga dipake." Bentuknya memang tidak terlalu menggoda. Tapi fungsinya yang sementara membuatnya rapuh dan gampang saya robek-robek untuk permainan cinta yang liar. Namanya juga variasi.
Di kesempatan lain lagi, B mencoba memakai boxer hitam saya. Sambil berkaca, ia tertawa-tawa. "Lucu ya," katanya. Dilepasnya kancing di bagian depan celana, dan dijulurkannya jari tengahnya keluar dari celahnya. "Lihat, aku juga punya t*t*t!" serunya sambil terbahak-bahak. Kami tidak jadi bercinta karena lelahnya tertawa. Namanya juga coba-coba.
Saya suka melihat B memakai baju pilihan saya. Walaupun akhirnya waktu mau menikmati tubuhnya, bajunya kadang harus dibuka juga. Baju bisa jadi awal segalanya. Potongan tertentu bisa langsung memancing 'adik' saya berdiri. Namanya juga laki-laki.
Selain baju, pakaian dalam juga tentunya penting. Bentuk dan fungsinya harus bisa membuat lekuk perempuan terlihat semakin menggoda, tidak peduli harganya berapa, merknya apa, dan belinya di mana. Namanya juga lingerie.
Mari berbicara lebih dalam tentang pakaian dalam. Kado terakhir B untuk saya adalah sepasang bra dan panty merah muda yang dibelinya diam-diam dan dipakainya dengan elegan. Saya jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Menyetubuhinya malam itu, tidak perlu melepas si merah muda renda-renda. Namanya juga tergila-gila.
Kali lain, B memakai celana dalam sekali pakai yang dibelinya di toko serba ada. Katanya, "Masih sisa dari kemarin ke Bali. Sayang kalau ngga dipake." Bentuknya memang tidak terlalu menggoda. Tapi fungsinya yang sementara membuatnya rapuh dan gampang saya robek-robek untuk permainan cinta yang liar. Namanya juga variasi.
Di kesempatan lain lagi, B mencoba memakai boxer hitam saya. Sambil berkaca, ia tertawa-tawa. "Lucu ya," katanya. Dilepasnya kancing di bagian depan celana, dan dijulurkannya jari tengahnya keluar dari celahnya. "Lihat, aku juga punya t*t*t!" serunya sambil terbahak-bahak. Kami tidak jadi bercinta karena lelahnya tertawa. Namanya juga coba-coba.
Jumat, 17 September 2010
I Love You (?)
A
Seberapa sering Anda mengucapkan "I love you" kepada orang yang Anda sayangi? Ketika mengucapkannya apakah Anda benar-benar meresapi arti kalimatnya, atau hanya karena ingin membuat pasangan Anda bahagia, atau sekedar tersenyum saja? Atau mungkin terucap karena Anda ingin mendengar dia mengucapkan kalimat "I love you, too"?
Saya ingat pertama kali mengucapkan tiga kata itu pertama kali pada B. Tidak ada ungkapan kasih sayang terbalas dari mulutnya. Tidak apa-apa, karena saat itu saya benar-benar merasa jatuh cinta. Satu hal yang jarang sekali terjadi dalam hidup saya. Malam itu kami hanya berdua di kamarnya, baru selesai berciuman mesra. Tanpa senggama. Tidak apa-apa, karena memang belum saatnya. Baru dua minggu dia lepas dari mantan kekasihnya. Tapi sungguh, getaran di antara kami benar-benar terasa. Saya yakin dia juga merasakan hal yang sama. Pasti. Dan saya merasa tidak perlu ada kata-kata "apakah kamu jadi pacar saya?" karena saya tahu dia tidak membutuhkannya.
Sedari awal kami saling mengenal, B sudah memberi peringatan, "Saya tidak mau terburu-buru." Amat wajar untuk perempuan yang baru saja berusaha merapikan serpihan hatinya yang berantakan. Ketika akhirnya malam itu mulut saya berucap "I love you", dia hanya membalas "pelan-pelan aja ya". Lalu kami berciuman lagi. Kali ini lebih pelan. Dan lembut.
Sekitar seminggu setelah itu, saya mendapat balasan juga darinya. Bukan "I love you, too" atau "I love you more" seperti yang wajar diucapkan untuk membalas tiga kata itu. B hanya meraih tangan saya, dan meletakkan duplikat kunci kamarnya dalam genggaman saya. Saya tersenyum lalu berkata, "Emang kamu udah yakin?" Dia mengangguk. Lalu kami bercinta. Bukan yang pertama kali, memang. Tapi mungkin yang paling penuh ungkapan rasa. Ah, saya mulai terdengar seperti perempuan.
Sejak hari itu saya tidak pernah luput mengucap "I love you" setiap hari untuknya. Sekedar untuk mengingatkan dia bahwa saya tidak main-main.
B
Setiap hari A bilang "I love you" sama saya. Tapi saya tidak pernah bosan dan tidak pernah merasa itu berlebihan. Kamu tahu, pacar saya yang dulu jarang sekali bilang tiga kata itu. Katanya, "Jangan diumbar, dirasain aja." Tapi kan saya perempuan, dan kalau kamu juga perempuan mungkin kamu juga merasa bahwa ungkapan kata-kata itu dari mulut laki-laki adalah salah satu kebutuhan.
Kadang saya balas A dengan bilang "I love you, too". Kadang juga dengan "I love you more". Atau kadang tidak saya balas sama sekali, hanya saya cium saja. Dan dia tidak mengeluh, tidak minta saya balas ucapannya dengan kata-kata cinta juga. Porsi satu kali sehari dapat "I love you" dari A sudah cukup membuat saya merasa tenang.
A
Terlalu sering mengucapkan "I love you" dapat membuat kalimat itu kehilangan maknanya. Saya tidak ingin itu terjadi. Walaupun selalu terucap dari hati, tetapi urusan makna tetap ditentukan oleh si penerima. Oleh karena itu saya mencoba kata-kata baru untuk menungkapkan kasih sayang saya. Tinggal disesuaikan dengan kondisi dan posisinya.
Saat woman on top saya berkata, "Gila, ini baru istri gua."
Saat doggie style saya berbisik di telinganya, "Aku sayang banget sama kamu."
Saat misionaris saya menatap matanya dan berkata, "Jangan pernah tinggalin aku, ya."
Saat lemari baju berderik-derik menahan posisi kami yang berdiri, saya berucap, "I love you so much, Baby." Lalu saya gigit lehernya.
Saya tidak akan pernah berhenti berinovasi.
Terakhir, tadi malam kami tidur berdampingan. Saya gandeng tangannya lalu berkata, "Aku cinta mati sama kamu."
B
"Aku cinta mati sama kamu" tentu jauh lebih bermakna dari "I love you". Tidak jadi tidur, saya melayaninya untuk ronde ke-dua.
Seberapa sering Anda mengucapkan "I love you" kepada orang yang Anda sayangi? Ketika mengucapkannya apakah Anda benar-benar meresapi arti kalimatnya, atau hanya karena ingin membuat pasangan Anda bahagia, atau sekedar tersenyum saja? Atau mungkin terucap karena Anda ingin mendengar dia mengucapkan kalimat "I love you, too"?
Saya ingat pertama kali mengucapkan tiga kata itu pertama kali pada B. Tidak ada ungkapan kasih sayang terbalas dari mulutnya. Tidak apa-apa, karena saat itu saya benar-benar merasa jatuh cinta. Satu hal yang jarang sekali terjadi dalam hidup saya. Malam itu kami hanya berdua di kamarnya, baru selesai berciuman mesra. Tanpa senggama. Tidak apa-apa, karena memang belum saatnya. Baru dua minggu dia lepas dari mantan kekasihnya. Tapi sungguh, getaran di antara kami benar-benar terasa. Saya yakin dia juga merasakan hal yang sama. Pasti. Dan saya merasa tidak perlu ada kata-kata "apakah kamu jadi pacar saya?" karena saya tahu dia tidak membutuhkannya.
Sedari awal kami saling mengenal, B sudah memberi peringatan, "Saya tidak mau terburu-buru." Amat wajar untuk perempuan yang baru saja berusaha merapikan serpihan hatinya yang berantakan. Ketika akhirnya malam itu mulut saya berucap "I love you", dia hanya membalas "pelan-pelan aja ya". Lalu kami berciuman lagi. Kali ini lebih pelan. Dan lembut.
Sekitar seminggu setelah itu, saya mendapat balasan juga darinya. Bukan "I love you, too" atau "I love you more" seperti yang wajar diucapkan untuk membalas tiga kata itu. B hanya meraih tangan saya, dan meletakkan duplikat kunci kamarnya dalam genggaman saya. Saya tersenyum lalu berkata, "Emang kamu udah yakin?" Dia mengangguk. Lalu kami bercinta. Bukan yang pertama kali, memang. Tapi mungkin yang paling penuh ungkapan rasa. Ah, saya mulai terdengar seperti perempuan.
Sejak hari itu saya tidak pernah luput mengucap "I love you" setiap hari untuknya. Sekedar untuk mengingatkan dia bahwa saya tidak main-main.
B
Setiap hari A bilang "I love you" sama saya. Tapi saya tidak pernah bosan dan tidak pernah merasa itu berlebihan. Kamu tahu, pacar saya yang dulu jarang sekali bilang tiga kata itu. Katanya, "Jangan diumbar, dirasain aja." Tapi kan saya perempuan, dan kalau kamu juga perempuan mungkin kamu juga merasa bahwa ungkapan kata-kata itu dari mulut laki-laki adalah salah satu kebutuhan.
Kadang saya balas A dengan bilang "I love you, too". Kadang juga dengan "I love you more". Atau kadang tidak saya balas sama sekali, hanya saya cium saja. Dan dia tidak mengeluh, tidak minta saya balas ucapannya dengan kata-kata cinta juga. Porsi satu kali sehari dapat "I love you" dari A sudah cukup membuat saya merasa tenang.
A
Terlalu sering mengucapkan "I love you" dapat membuat kalimat itu kehilangan maknanya. Saya tidak ingin itu terjadi. Walaupun selalu terucap dari hati, tetapi urusan makna tetap ditentukan oleh si penerima. Oleh karena itu saya mencoba kata-kata baru untuk menungkapkan kasih sayang saya. Tinggal disesuaikan dengan kondisi dan posisinya.
Saat woman on top saya berkata, "Gila, ini baru istri gua."
Saat doggie style saya berbisik di telinganya, "Aku sayang banget sama kamu."
Saat misionaris saya menatap matanya dan berkata, "Jangan pernah tinggalin aku, ya."
Saat lemari baju berderik-derik menahan posisi kami yang berdiri, saya berucap, "I love you so much, Baby." Lalu saya gigit lehernya.
Saya tidak akan pernah berhenti berinovasi.
Terakhir, tadi malam kami tidur berdampingan. Saya gandeng tangannya lalu berkata, "Aku cinta mati sama kamu."
B
"Aku cinta mati sama kamu" tentu jauh lebih bermakna dari "I love you". Tidak jadi tidur, saya melayaninya untuk ronde ke-dua.
Selasa, 06 Juli 2010
Seandainya

"Sayang, kalau seandainya semua manusia di dunia ngga setuju sama hubungan kita, dan berusaha untuk memisahkan kita, kamu mau ngga bunuh diri sama aku?"
"Bunuh dirinya gimana dulu caranya?"
"Dengan cara gimana pun yang menurut kamu paling enak."
"Kalo gitu, aku mau."
"Beneran mau bunuh diri sama aku?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena kamu pilihan aku, dan aku cuma punya kamu."
Ingin rasanya saya menitikkan air mata melankolis penuh haru. Tapi saya memutuskan untuk melucuti pakaiannya saja satu demi satu.
Minggu, 16 Mei 2010
Tidur, Dia
A
Saya merasa nyaman ketika dia tidur di sebelah saya. Merasa lengkap ketika saya berhasil memuaskannya. Merasa genap bila membuatnya tertidur letih setelah melepaskan nafsunya. Saya menjadi lelaki yang paling bahagia.
Saya cinta dia, pasangan hidup saya. Saya tahu dia juga memelihara rasa yang sama. Dan salah satu bentuk penyerahan dirinya adalah dengan tidak pernah menolak melayani saya. Saya sungguh lelaki yang paling bahagia.
Bahkan ketika dia sudah memasuki alam bawah sadarnya, bila saya membisikkan fantasi saya, dia akan kembali membuka matanya dan melayani dengan sisa-sisa tenaga. Katanya, "Kamu jauh lebih berharga dari lelaki manapun yang pernah hadir dalam mimpi aku. Karena kamu nyata."
B
Saya mengagungkan waktu ketika dia terlelap dalam tidurnya. Bukan karena saya tidak suka menghabiskan waktu dengannya saat dia terjaga, tetapi karena saat dengkurnya halus menyapa telinga saya, dia benar-benar dalam keadaan tidak berdaya.
Saya suka menyentuh kepalanya yang tergolek di atas bantal besarung biru muda. Membiarkan helai-helai rambut hitamnya menyelusup di sela-sela jemari saya. Lalu membelai-belai dada dan perutnya. Saya sungguh tergila-gila.
Dan bila semuanya itu saya lakukan ketika dia sedang terjaga (atau setengah terlena karena substansi yang mempermainkan otaknya), pasti dia menyangka saya sedang mengajaknya bermain cinta. Tapi tidak sekarang. Tidak saat nafasnya teratur berirama ketika dia menikmati mimpinya. Dia sungguh tidak berdaya. Ketika saya mengendus tiap senti kulit cokelatnya, dia tak bisa berbuat apa-apa.
Tapi kadang-kadang dia terjaga juga. Tanpa membuka matanya, dia akan membalikkan tubuhnya kemudian memeluk saya. Lalu biasanya saya akan balas memeluk dia. Bertahan sebentar sampai merasa gerah, lalu memalingkan badan dan membiarkan dia menyenderkan kepalanya di punggung saya.
Saya merasa nyaman ketika dia tidur di sebelah saya. Merasa lengkap ketika saya berhasil memuaskannya. Merasa genap bila membuatnya tertidur letih setelah melepaskan nafsunya. Saya menjadi lelaki yang paling bahagia.
Saya cinta dia, pasangan hidup saya. Saya tahu dia juga memelihara rasa yang sama. Dan salah satu bentuk penyerahan dirinya adalah dengan tidak pernah menolak melayani saya. Saya sungguh lelaki yang paling bahagia.
Bahkan ketika dia sudah memasuki alam bawah sadarnya, bila saya membisikkan fantasi saya, dia akan kembali membuka matanya dan melayani dengan sisa-sisa tenaga. Katanya, "Kamu jauh lebih berharga dari lelaki manapun yang pernah hadir dalam mimpi aku. Karena kamu nyata."
B
Saya mengagungkan waktu ketika dia terlelap dalam tidurnya. Bukan karena saya tidak suka menghabiskan waktu dengannya saat dia terjaga, tetapi karena saat dengkurnya halus menyapa telinga saya, dia benar-benar dalam keadaan tidak berdaya.
Saya suka menyentuh kepalanya yang tergolek di atas bantal besarung biru muda. Membiarkan helai-helai rambut hitamnya menyelusup di sela-sela jemari saya. Lalu membelai-belai dada dan perutnya. Saya sungguh tergila-gila.
Dan bila semuanya itu saya lakukan ketika dia sedang terjaga (atau setengah terlena karena substansi yang mempermainkan otaknya), pasti dia menyangka saya sedang mengajaknya bermain cinta. Tapi tidak sekarang. Tidak saat nafasnya teratur berirama ketika dia menikmati mimpinya. Dia sungguh tidak berdaya. Ketika saya mengendus tiap senti kulit cokelatnya, dia tak bisa berbuat apa-apa.
Tapi kadang-kadang dia terjaga juga. Tanpa membuka matanya, dia akan membalikkan tubuhnya kemudian memeluk saya. Lalu biasanya saya akan balas memeluk dia. Bertahan sebentar sampai merasa gerah, lalu memalingkan badan dan membiarkan dia menyenderkan kepalanya di punggung saya.
Selasa, 02 Maret 2010
Kurang Tidur Lagi
A
Tadi malam saya kurang tidur. Untungnya hari ini tidak harus ke kantor pagi-pagi.
Saat terbangun tadi, B sudah tidak ada di sebelah saya. Bahkan saya tidak sadar ketika dia berangkat tadi sempat mencium hidung saya, seperti yang biasa dilakukannya sebelum meninggalkan kamar untuk berangkat kerja.
Tapi akhirnya saya terbangun juga karena merasa kegerahan. Pasti B mematikan AC sebelum mandi tadi. Saya tahu dia tidak suka keluar kamar mandi basah-basahan disambut hawa pendingin ruangan.
Sekarang AC saya nyalakan kembali, lalu tidur lagi.
B
Kurang tidur saya tadi malam. Menyetir mobil menuju kantor saat ini, rasanya malas memikirkan pekerjaan.
Dua perempatan lagi saya sampai di tujuan. Di lampu merah ini, seperti yang sering dilakukan perempuan lain, saya berkaca memeriksa rias muka. Lalu tersenyum. Tidak ada masalah dengan penampilan saya hari ini. Hanya perlu sedikit hati-hati dengan kancing baju paling atas yang sering terlepas. Bisa-bisa sisa semalam terlihat jelas.
Sekarang lampu sudah hijau. Saya lepas rem dan injak gas.
Q
Saya tadi malam kurang tidur. Permainan cinta pasangan di kamar sebelah mengganggu keheningan saya.
Yang perempuan sudah pergi. Terdengar langkah kakinya yang bersepatu hak tinggi melewati depan pintu kamar saya tadi.
Sekarang samar-samar masih terdengar dengkur si laki-laki. Kalau sudah bangun nanti, akan saya tanyai. Minum apa dia, bisa berdiri dari jam sepuluh malam sampai jam empat pagi?
Tadi malam saya kurang tidur. Untungnya hari ini tidak harus ke kantor pagi-pagi.
Saat terbangun tadi, B sudah tidak ada di sebelah saya. Bahkan saya tidak sadar ketika dia berangkat tadi sempat mencium hidung saya, seperti yang biasa dilakukannya sebelum meninggalkan kamar untuk berangkat kerja.
Tapi akhirnya saya terbangun juga karena merasa kegerahan. Pasti B mematikan AC sebelum mandi tadi. Saya tahu dia tidak suka keluar kamar mandi basah-basahan disambut hawa pendingin ruangan.
Sekarang AC saya nyalakan kembali, lalu tidur lagi.
B
Kurang tidur saya tadi malam. Menyetir mobil menuju kantor saat ini, rasanya malas memikirkan pekerjaan.
Dua perempatan lagi saya sampai di tujuan. Di lampu merah ini, seperti yang sering dilakukan perempuan lain, saya berkaca memeriksa rias muka. Lalu tersenyum. Tidak ada masalah dengan penampilan saya hari ini. Hanya perlu sedikit hati-hati dengan kancing baju paling atas yang sering terlepas. Bisa-bisa sisa semalam terlihat jelas.
Sekarang lampu sudah hijau. Saya lepas rem dan injak gas.
Q
Saya tadi malam kurang tidur. Permainan cinta pasangan di kamar sebelah mengganggu keheningan saya.
Yang perempuan sudah pergi. Terdengar langkah kakinya yang bersepatu hak tinggi melewati depan pintu kamar saya tadi.
Sekarang samar-samar masih terdengar dengkur si laki-laki. Kalau sudah bangun nanti, akan saya tanyai. Minum apa dia, bisa berdiri dari jam sepuluh malam sampai jam empat pagi?
Jumat, 19 Februari 2010
Kado Renda-Renda
A
Hari ini B minta ijin untuk bertemu teman-teman lamanya. Seorang teman perempuan dan seorang teman laki-laki homoseksual. Saya ijinkan. Karena saya tidak cemburu.
Saya cemburu kalau dia pergi bersama mantan pacarnya. Atau bersama teman lelakinya yang saya belum kenal. Apalagi kalau dia pergi pakai rok mini. Aduh, rok mini. Harusnya pemandangan itu eksklusif hanya untuk saya. Hanya saya yang boleh menikmatinya. Jadi kalau dia pergi tanpa saya, biasanya saya tanya, “Kamu pakai baju apa?”
Tapi kali ini tidak apa-apa. Saya biarkan dia bersenang-senang dengan teman-temannya. Katanya mau ngopi-ngopi saja, ngobrol-ngobrol dan bertukar cerita. Tapi sampai jam sembilan belum ada berita dari dia. Padahal saya rindu, ingin juga dibagi sedikit waktu miliknya.
Saya log in Yahoo Messenger. Berharap dia menjawab dari BlackBerry-nya.
A: BUZZ!!! Sayang. Kok ngga ada kabarnya?
B: Hey sayang. Hehe. Lg nemenin C beli korset
A: korset?
Beberapa menit dia tak menjawab.
A: BUZZ!!! Ada kado ngga buat aku?
B: Iya sayang. Iya ini lg nyari beha renda2 hahaha
A: Panties juga
B: Iya dibantuin D nih milihnya. Jd nti klo dipake inget dia. Hahahha. Mau warna apa?
A: Siapa inget dia?
B: Kita berdua maksudnya hahaha
Maksudnya kalau dipakai jadi ingat teman laki-lakinya yang gay itu?
A: Ih jijik
B: Hahaha. Hush. Buruan mau warna apa. Tokonya mau tutup
A: Hehehe. Terserah
B: Ya udah bsk aja deh aku balik lg
A: Merah, hitam, kuning
B: Udah pd nungguin nih
A: Yahhhh. Huh
B: Ngga ada yg bagus
A: Huh. Ngga jd ya. Huh padahal dah bayangin. Ya udah klo pulang aku nitip rokok ya
B: OK
Ternyata B menipu saya. Malam ini dia pulang membawa kado renda-renda. Sepasang, warnanya merah muda. Langsung dipakainya setelah cuci tangan, cuci kaki, dan gosok gigi. Cantik sekali.
“Suka ngga kadonya?” tanya B.
“Suka banget. Kamu bagus pakai itu.”
Sepanjang geliat kami malam ini, kado itu tak lepas dari tubuhnya. Sampai dia lelah dan akhirnya pulas dalam pelukan saya. Padahal saya masih ingin lagi. Apalagi di layar kaca Miranda Kerr sedang berlenggak-lenggok di pagelaran Victoria’s Secret.
***
B
Pagi ini saya terbangun dengan pegal yang menggelayuti seluruh badan. Wah, ternyata semalam saya tertidur masih memakai beha dan celana dalam. Terang saja peredaran darah tidak lancar.
Saya langsung menuju kamar mandi. Ingin cuci muka karena semalam maskara ternyata belum dihapus juga. Oh iya, sedikit tips untuk menghapus riasan mata. Daripada mahal-mahal membeli eye make up remover dengan merk kosmetika ternama, lebih hemat pakai baby oil saja. Dijamin, riasan mata pasti luntur.
Tapi saya tak menemukan botol itu di atas wastafel tempat saya biasa menyimpannya. Saya curiga. Pasti A.
Benar saja. Botol baby oil saya temukan tergeletak di samping tempat tidur. Tutupnya setengah terbuka. Semalam pasti dia memakai baby oil saya untuk kegunaan lain: bermain-main dengan ‘adiknya’.
Agak merasa bersalah saya semalam tidak memberinya ronde ke-dua.
Hari ini B minta ijin untuk bertemu teman-teman lamanya. Seorang teman perempuan dan seorang teman laki-laki homoseksual. Saya ijinkan. Karena saya tidak cemburu.
Saya cemburu kalau dia pergi bersama mantan pacarnya. Atau bersama teman lelakinya yang saya belum kenal. Apalagi kalau dia pergi pakai rok mini. Aduh, rok mini. Harusnya pemandangan itu eksklusif hanya untuk saya. Hanya saya yang boleh menikmatinya. Jadi kalau dia pergi tanpa saya, biasanya saya tanya, “Kamu pakai baju apa?”
Tapi kali ini tidak apa-apa. Saya biarkan dia bersenang-senang dengan teman-temannya. Katanya mau ngopi-ngopi saja, ngobrol-ngobrol dan bertukar cerita. Tapi sampai jam sembilan belum ada berita dari dia. Padahal saya rindu, ingin juga dibagi sedikit waktu miliknya.
Saya log in Yahoo Messenger. Berharap dia menjawab dari BlackBerry-nya.
A: BUZZ!!! Sayang. Kok ngga ada kabarnya?
B: Hey sayang. Hehe. Lg nemenin C beli korset
A: korset?
Beberapa menit dia tak menjawab.
A: BUZZ!!! Ada kado ngga buat aku?
B: Iya sayang. Iya ini lg nyari beha renda2 hahaha
A: Panties juga
B: Iya dibantuin D nih milihnya. Jd nti klo dipake inget dia. Hahahha. Mau warna apa?
A: Siapa inget dia?
B: Kita berdua maksudnya hahaha
Maksudnya kalau dipakai jadi ingat teman laki-lakinya yang gay itu?
A: Ih jijik
B: Hahaha. Hush. Buruan mau warna apa. Tokonya mau tutup
A: Hehehe. Terserah
B: Ya udah bsk aja deh aku balik lg
A: Merah, hitam, kuning
B: Udah pd nungguin nih
A: Yahhhh. Huh
B: Ngga ada yg bagus
A: Huh. Ngga jd ya. Huh padahal dah bayangin. Ya udah klo pulang aku nitip rokok ya
B: OK
Ternyata B menipu saya. Malam ini dia pulang membawa kado renda-renda. Sepasang, warnanya merah muda. Langsung dipakainya setelah cuci tangan, cuci kaki, dan gosok gigi. Cantik sekali.
“Suka ngga kadonya?” tanya B.
“Suka banget. Kamu bagus pakai itu.”
Sepanjang geliat kami malam ini, kado itu tak lepas dari tubuhnya. Sampai dia lelah dan akhirnya pulas dalam pelukan saya. Padahal saya masih ingin lagi. Apalagi di layar kaca Miranda Kerr sedang berlenggak-lenggok di pagelaran Victoria’s Secret.
***
B
Pagi ini saya terbangun dengan pegal yang menggelayuti seluruh badan. Wah, ternyata semalam saya tertidur masih memakai beha dan celana dalam. Terang saja peredaran darah tidak lancar.
Saya langsung menuju kamar mandi. Ingin cuci muka karena semalam maskara ternyata belum dihapus juga. Oh iya, sedikit tips untuk menghapus riasan mata. Daripada mahal-mahal membeli eye make up remover dengan merk kosmetika ternama, lebih hemat pakai baby oil saja. Dijamin, riasan mata pasti luntur.
Tapi saya tak menemukan botol itu di atas wastafel tempat saya biasa menyimpannya. Saya curiga. Pasti A.
Benar saja. Botol baby oil saya temukan tergeletak di samping tempat tidur. Tutupnya setengah terbuka. Semalam pasti dia memakai baby oil saya untuk kegunaan lain: bermain-main dengan ‘adiknya’.
Agak merasa bersalah saya semalam tidak memberinya ronde ke-dua.
Langganan:
Postingan (Atom)