Ah, saya menghitung berkat tidak dengan satuan harta -- tapi dengan senyum yang bukan terpaksa.
Merasa kaya-raya dengan emasnya matari, kilaunya gemintang, peraknya rembulan -- apalagi ada kamu di pelukan.
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Bantal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Bantal. Tampilkan semua postingan
Jumat, 06 Juli 2012
Minggu, 20 Mei 2012
Jurnal Bantal 20 Mei 2012
Puitwit - Kumpulan Puisi Mini di Twitter
Tentang Kerinduan
Rindu adalah ketiadaan namaku yang kaukulum dalam mulut. Maka kehampaan menjadi kosong yang absolut.
Ada sendu yang menggema ketika senandungnya memantul pada dinding-dinding malam tak bertuan.
Menjahit perca kenangan jadi layar untuk arungi alam mimpi, kuharap kamu yang menjemput di dermaga ketika aku merapat nanti.
Berjanjilah padaku, bahwa putaran tangan-tangan waktu tak akan patahkan janji untuk bertemu. Sebab lingkaran angka nan usang cuma mengujimu.
Jarak mungkin akan melemahkan, tapi waktu akan menguatkan. Atau sebaliknya demikian.
Meramu rindu yang jadi candu, untuk dihirup bersama di akhir minggu.
Lalu kita dimabuk cinta, sampai Senin usai merias wajahnya.
Tentang Kerinduan
Rindu adalah ketiadaan namaku yang kaukulum dalam mulut. Maka kehampaan menjadi kosong yang absolut.
Ada sendu yang menggema ketika senandungnya memantul pada dinding-dinding malam tak bertuan.
Menjahit perca kenangan jadi layar untuk arungi alam mimpi, kuharap kamu yang menjemput di dermaga ketika aku merapat nanti.
Berjanjilah padaku, bahwa putaran tangan-tangan waktu tak akan patahkan janji untuk bertemu. Sebab lingkaran angka nan usang cuma mengujimu.
Jarak mungkin akan melemahkan, tapi waktu akan menguatkan. Atau sebaliknya demikian.
Meramu rindu yang jadi candu, untuk dihirup bersama di akhir minggu.
Lalu kita dimabuk cinta, sampai Senin usai merias wajahnya.
Sabtu, 19 Mei 2012
Jurnal Bantal 19 Mei 2012
Kumpulan Doa untuk Semua - Bagian Dua
(Lihat Bagian Satu )
Selamat pagi masa depan, makin lama makin erat dalam genggaman. Selamat pagi masa lalu, makin lama aku makin tak kenal kamu.
***
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang bercinta dan yang berduka. Untuk yang tersayang dan yang terluka. Peluk cium untuk semua.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang terlupakan dan didambakan. Untuk masa lalu dan masa depan. Untuk yang masih makan malam dan sudah sarapan.
Selamat siang untuk semua. Untuk yang masih kelaparan dan sudah makan siang. Untuk yang ingin jalah-jalan dan ingin segera pulang.
***
Selamat pagi untuk semua! Untuk yang masih mendengkur dan yang sudah mengucap syukur, untuk yang masih mengumpulkan nyawa dan yang sudah membasuh raga.
Selamat Senin untuk semua! Untuk yang masih mengumpulkan nyawa dan yang sudah mengejar rejeki. Untuk yang menyimpan sendiri dan yang suka berbagi.
Selamat Senin untuk semua! Untuk yang menggerutu kurang waktu, untuk yang mengeluh banyak peluh, dan untuk yang meminta cukup cinta.
***
Selamat pagi untuk semua! Untuk yang masih belekan dan yang sudah dandan. Untuk yang baru jadian dan yang masih pendekatan.
Selamat pagi untuk semua! Untuk yang mendengkur dan mengejan. Untuk yang masih di kasur dan sudah di jamban.
***
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang jarak dekat dan jarak jauh. Untuk yang mandi kembang dan mandi peluh. Untuk yang kangen dan yang jenuh.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang membuat menangis dan tertawa. Untuk yang menguras keringat dan air mata. Untuk yang sekarang dan selamanya.
Selamat pagi untuk semua! Untuk yang katanya sudah berubah tapi ternyata masih sama saja dan untuk yang tidak berjanji tapi bisa beri buktinya.
***
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang berbunga-bunga, yang berkupu-kupu, dan yang berkunang-kunang. Selamat bercinta!
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang harap-harap cemas, kangen-kangen gemas, dan bangun-bangun lemas. Semoga Rabu tidak kelabu!
***
Selamat istirahat untuk semua. Untuk yang lelah tapi masih bergairah, untuk yang melindur tapi belum tidur, dan untuk yang sekedar ingin bertemu dalam mimpi.
(Lihat Bagian Satu )
Selamat pagi masa depan, makin lama makin erat dalam genggaman. Selamat pagi masa lalu, makin lama aku makin tak kenal kamu.
***
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang bercinta dan yang berduka. Untuk yang tersayang dan yang terluka. Peluk cium untuk semua.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang terlupakan dan didambakan. Untuk masa lalu dan masa depan. Untuk yang masih makan malam dan sudah sarapan.
Selamat siang untuk semua. Untuk yang masih kelaparan dan sudah makan siang. Untuk yang ingin jalah-jalan dan ingin segera pulang.
***
Selamat pagi untuk semua! Untuk yang masih mendengkur dan yang sudah mengucap syukur, untuk yang masih mengumpulkan nyawa dan yang sudah membasuh raga.
Selamat Senin untuk semua! Untuk yang masih mengumpulkan nyawa dan yang sudah mengejar rejeki. Untuk yang menyimpan sendiri dan yang suka berbagi.
Selamat Senin untuk semua! Untuk yang menggerutu kurang waktu, untuk yang mengeluh banyak peluh, dan untuk yang meminta cukup cinta.
***
Selamat pagi untuk semua! Untuk yang masih belekan dan yang sudah dandan. Untuk yang baru jadian dan yang masih pendekatan.
Selamat pagi untuk semua! Untuk yang mendengkur dan mengejan. Untuk yang masih di kasur dan sudah di jamban.
***
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang jarak dekat dan jarak jauh. Untuk yang mandi kembang dan mandi peluh. Untuk yang kangen dan yang jenuh.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang membuat menangis dan tertawa. Untuk yang menguras keringat dan air mata. Untuk yang sekarang dan selamanya.
Selamat pagi untuk semua! Untuk yang katanya sudah berubah tapi ternyata masih sama saja dan untuk yang tidak berjanji tapi bisa beri buktinya.
***
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang berbunga-bunga, yang berkupu-kupu, dan yang berkunang-kunang. Selamat bercinta!
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang harap-harap cemas, kangen-kangen gemas, dan bangun-bangun lemas. Semoga Rabu tidak kelabu!
***
Selamat istirahat untuk semua. Untuk yang lelah tapi masih bergairah, untuk yang melindur tapi belum tidur, dan untuk yang sekedar ingin bertemu dalam mimpi.
Kamis, 08 Maret 2012
Jurnal Bantal 8 Maret 2012
Cuaca paling hangat malam tadi adalah di dalam pelukanmu.
Lalu tatap kita bertemu.
Alunan paling merdu pagi ini pastilah sapamu.
Lalu pipiku merah jambu.
****
Kuluman paling manis tiap hari adalah senyummu waktu mengucap cinta.
Lalu bibirku merindu kata-kata.
Lalu tatap kita bertemu.
Alunan paling merdu pagi ini pastilah sapamu.
Lalu pipiku merah jambu.
****
Kuluman paling manis tiap hari adalah senyummu waktu mengucap cinta.
Lalu bibirku merindu kata-kata.
Minggu, 08 Mei 2011
Jurnal Bantal 8 Mei 2011
Kumpulan Doa untuk Semua
Hari baik untuk semua! Untuk yang jatuh cinta dan tergila-gila, untuk yang patah hati dan tersakiti. Lihat, kita masih berbagi cahaya matahari!
***
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang dibohongi dan dicibir, untuk yang memaafkan dan tertawa paling akhir.
Selamat Rabu untuk semua. Untuk yang merasa, mengaku, sudah, dan tidak akan pernah berubah -- mari sapa hari yang baru.
Selamat pagi untuk semua! Untuk yang masih bisa tertawa, untuk yang belum berhenti menangis, dan untuk yang senyum-senyum sendiri.
Selamat pagi untuk semua! Untuk yg tersiksa rindu dan ingin bertemu, untuk yg mulai bosan dan mau berpisah, untuk yg di persimpangan dan tak tahu jalan.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang bermuka dua, untuk yang berstandar ganda, untuk yang bergunung kembar.
Selamat tidur untuk semua. Untuk yang setia dan yang mendua. Untuk yang rela berbagi dan egois sendiri. Untuk yang mendendam dan memaafkan.
Selamat malam untuk semua. Untuk yang mengingkari dan menepati. Untuk yang melupakan dan mengenang. Untuk yang terlelap dan terjaga.
Selamat siang untuk semua. Untuk yang tidur malam dan bangun pagi, untuk yang tidur pagi dan bangun siang, untuk yang baru sarapan dan sudah makan siang.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang terlambat dan terlalu cepat. Untuk yang menunggu dan ditunggu. Untuk yang mengejar dan dikejar.
Selamat istirahat untuk semua. Untuk yang sadar dan yang mabuk. Untuk yang lamban dan yang buru-buru. Untuk yang besar dan yang kecil.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang belum tidur dan sedang mimpi. Untuk yang sudah pergi dan belum berangkat. Untuk yang hangat dan basi.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang kepagian dan kesiangan. Untuk yang masih rindu dan sudah bosan. Untuk yang kekenyangan dan kelaparan.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang baru kenalan dan sudah berkawan. Untuk yang masih pacar dan sudah mantan. Untuk nasi dan ketan.
Selamat pagi untuk semua. Utk yang lancar dan yang mampet. Untuk yang santai dan yang kebelet. Untuk yang "cuma temen" dan yang "lagi deket".
***
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang pergi dan yang pulang. Untuk yang sendiri dan yang sepasang. Untuk yang dulu dan yang sekarang.
Hari baik untuk semua! Untuk yang jatuh cinta dan tergila-gila, untuk yang patah hati dan tersakiti. Lihat, kita masih berbagi cahaya matahari!
***
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang dibohongi dan dicibir, untuk yang memaafkan dan tertawa paling akhir.
Selamat Rabu untuk semua. Untuk yang merasa, mengaku, sudah, dan tidak akan pernah berubah -- mari sapa hari yang baru.
Selamat pagi untuk semua! Untuk yang masih bisa tertawa, untuk yang belum berhenti menangis, dan untuk yang senyum-senyum sendiri.
Selamat pagi untuk semua! Untuk yg tersiksa rindu dan ingin bertemu, untuk yg mulai bosan dan mau berpisah, untuk yg di persimpangan dan tak tahu jalan.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang bermuka dua, untuk yang berstandar ganda, untuk yang bergunung kembar.
Selamat tidur untuk semua. Untuk yang setia dan yang mendua. Untuk yang rela berbagi dan egois sendiri. Untuk yang mendendam dan memaafkan.
Selamat malam untuk semua. Untuk yang mengingkari dan menepati. Untuk yang melupakan dan mengenang. Untuk yang terlelap dan terjaga.
Selamat siang untuk semua. Untuk yang tidur malam dan bangun pagi, untuk yang tidur pagi dan bangun siang, untuk yang baru sarapan dan sudah makan siang.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang terlambat dan terlalu cepat. Untuk yang menunggu dan ditunggu. Untuk yang mengejar dan dikejar.
Selamat istirahat untuk semua. Untuk yang sadar dan yang mabuk. Untuk yang lamban dan yang buru-buru. Untuk yang besar dan yang kecil.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang belum tidur dan sedang mimpi. Untuk yang sudah pergi dan belum berangkat. Untuk yang hangat dan basi.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang kepagian dan kesiangan. Untuk yang masih rindu dan sudah bosan. Untuk yang kekenyangan dan kelaparan.
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang baru kenalan dan sudah berkawan. Untuk yang masih pacar dan sudah mantan. Untuk nasi dan ketan.
Selamat pagi untuk semua. Utk yang lancar dan yang mampet. Untuk yang santai dan yang kebelet. Untuk yang "cuma temen" dan yang "lagi deket".
***
Selamat pagi untuk semua. Untuk yang pergi dan yang pulang. Untuk yang sendiri dan yang sepasang. Untuk yang dulu dan yang sekarang.
Sabtu, 07 Mei 2011
Jurnal Bantal 7 Mei 2011
Sekian.
Kita punya dua mata dan satu mulut. Artinya boleh banyak melihat, tapi yang dicium tetap cuma satu.
Kita punya dua lengan dan sepuluh jari. Artinya yang dirangkul bisa dua, tapi yang dicolek bisa banyak.
Kita punya dua lubang hidung dan satu dubur, agar bisa menarik nafas lebih sering dari membuang angin.
Kita punya dua lubang hidung dan sepuluh jari tangan supaya tidak bosan-bosan mengupil -- bisa ganti-ganti jari sesuka hati.
Kita punya satu mulut dan dua telinga supaya lebih banyak mendengar dibanding bicara. Faktanya mulut perempuan ada dua.
Kita punya satu mulut dan dua telinga supaya lebih banyak mendengar dibanding bicara. Faktanya lelaki punya microphone sendiri.
Kita punya satu hati supaya bisa mendua. Kalau punya dua hati bisa mengempat – kebanyakan.
Kita punya otak di atas mulut supaya berpikir dulu sebelum bicara. Faktanya ada orang yang otaknya di dengkul.
Sekian dan demikian.
Kita punya dua mata dan satu mulut. Artinya boleh banyak melihat, tapi yang dicium tetap cuma satu.
Kita punya dua lengan dan sepuluh jari. Artinya yang dirangkul bisa dua, tapi yang dicolek bisa banyak.
Kita punya dua lubang hidung dan satu dubur, agar bisa menarik nafas lebih sering dari membuang angin.
Kita punya dua lubang hidung dan sepuluh jari tangan supaya tidak bosan-bosan mengupil -- bisa ganti-ganti jari sesuka hati.
Kita punya satu mulut dan dua telinga supaya lebih banyak mendengar dibanding bicara. Faktanya mulut perempuan ada dua.
Kita punya satu mulut dan dua telinga supaya lebih banyak mendengar dibanding bicara. Faktanya lelaki punya microphone sendiri.
Kita punya satu hati supaya bisa mendua. Kalau punya dua hati bisa mengempat – kebanyakan.
Kita punya otak di atas mulut supaya berpikir dulu sebelum bicara. Faktanya ada orang yang otaknya di dengkul.
Sekian dan demikian.
Senin, 21 Maret 2011
Jurnal Bantal 21 Maret 2011
Puitwit - Kumpulan Puisi Mini di Twitter
Purnama pun meragu, haruskah ia menjemput malam kala Matari masih pongah di singgasana. Sementara senja kian merona, apa daya?
***
Rinai air hujan belum pun reda, derai air mata menggenang jua. Pagi basah hanyutkan resah. Aku ingin kamu, bolehkah?
***
Sesungguhnya kesepian yang paling pilu itu bukan saat sedang sendiri, tapi saat merasa sendirian di tengah keramaian. Sekian dan demikian.
***
Hei penghuni bumi, mengapa susah sekali membumi? Yang terbang matanya silau bintang, sulit pijakkan kakinya pulang.
***
Rumahmu di hatiku, wahai Kelana. Walau kau hanya mampir seminggu untuk kembali berlalu. Ranjang ini menunggu, hangat selalu.
***
Aku jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya pada rautan meja. Sampai mengganggu waktu kerja, karena inginnya lagi-lagi meraut saja.
***
Setelah berbagi tawa dengan para malaikat belahan jiwa, aku kembali pulang ke ranjang kosong dan selimut tak bernyawa.
***
Dengan atau tanpamu -- bahagia itu nisbi, namun hampa itu absolut. Aku tidak takut.
***
Selamat tinggal adalah kamu melambai di balik jendela dan aku mengetuk pintu sunyi.
***
Purnama pun meragu, haruskah ia menjemput malam kala Matari masih pongah di singgasana. Sementara senja kian merona, apa daya?
***
Rinai air hujan belum pun reda, derai air mata menggenang jua. Pagi basah hanyutkan resah. Aku ingin kamu, bolehkah?
***
Sesungguhnya kesepian yang paling pilu itu bukan saat sedang sendiri, tapi saat merasa sendirian di tengah keramaian. Sekian dan demikian.
***
Hei penghuni bumi, mengapa susah sekali membumi? Yang terbang matanya silau bintang, sulit pijakkan kakinya pulang.
***
Rumahmu di hatiku, wahai Kelana. Walau kau hanya mampir seminggu untuk kembali berlalu. Ranjang ini menunggu, hangat selalu.
***
Aku jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya pada rautan meja. Sampai mengganggu waktu kerja, karena inginnya lagi-lagi meraut saja.
***
Setelah berbagi tawa dengan para malaikat belahan jiwa, aku kembali pulang ke ranjang kosong dan selimut tak bernyawa.
***
Dengan atau tanpamu -- bahagia itu nisbi, namun hampa itu absolut. Aku tidak takut.
***
Selamat tinggal adalah kamu melambai di balik jendela dan aku mengetuk pintu sunyi.
***
Sabtu, 12 Maret 2011
Jurnal Bantal 12 Maret 2011
Mengulum adalah: mengolah dalam mulut – dengan bibir dan lidah, tanpa dikunyah.
Berkelindan diartikan: erat jadi satu, kamu dan aku – bersebadan.
Gelinjang merupakan: lonjakan di atas ranjang – meregang dan melepas tegang.
Satu: Ia mengulum getirnya cemburu waktu berkelindan dengan sang malam, lambat-lambat hingga ruhnya menggelinjang dalam pelukan kelam.
Dua: Matari mengulum awan gulali di sore hari, kala langit jingga berkelindan dengan lautan – beranak ombak yang menggelinjang penuh riang.
*berjimak dengan sajak*
Berkelindan diartikan: erat jadi satu, kamu dan aku – bersebadan.
Gelinjang merupakan: lonjakan di atas ranjang – meregang dan melepas tegang.
Satu: Ia mengulum getirnya cemburu waktu berkelindan dengan sang malam, lambat-lambat hingga ruhnya menggelinjang dalam pelukan kelam.
Dua: Matari mengulum awan gulali di sore hari, kala langit jingga berkelindan dengan lautan – beranak ombak yang menggelinjang penuh riang.
*berjimak dengan sajak*
Jumat, 11 Maret 2011
Jurnal Bantal 11 Maret 2011
Curahan hati tentang sahabat lama – coretan puisi.
Puisi pasti sedih kalau cuma disapa dalam galau. Seperti tak bereksplorasi. Ia ingin punya jiwa dengan seribu rasa dalam segala masa. Untukku, puisi yang bagus tidak harus melankolis, ia bisa matematis dan tetap manis. Bukannya anti puisi cinta, tapi aku gemas kadang orang lupa masih ada puisi lucu, puisi penuh nafsu, bahkan puisi marah-marah atau hanya tentang sepatu.
*berpuisi tentang puisi*
Puisi pasti sedih kalau cuma disapa dalam galau. Seperti tak bereksplorasi. Ia ingin punya jiwa dengan seribu rasa dalam segala masa. Untukku, puisi yang bagus tidak harus melankolis, ia bisa matematis dan tetap manis. Bukannya anti puisi cinta, tapi aku gemas kadang orang lupa masih ada puisi lucu, puisi penuh nafsu, bahkan puisi marah-marah atau hanya tentang sepatu.
*berpuisi tentang puisi*
Kamis, 10 Maret 2011
Jurnal Bantal 10 Maret 2011
"Bermain kata-kata untuk pekerjaan itu kesenangan. Berkarya untuk diri sendiri itu rekreasi."
"Menulis itu kerja sama kepala dan hati, walaupun kadang-kadang ada yang mau menang sendiri."
"Apa yang dibuat dari hati adalah karya sejati."
"Pujian dan impresi adalah bonus. Tujuan sesungguhnya adalah untuk berkespresi."
"Membaca, seperti menyantap makanan, itu sesuai selera. Saya hanya koki kata-kata yang suka bermain dengan rempah nafsu, masih belajar pula. Akan sangat senang kalau kita belajar dan berkarya bersama."
*main serong dengan kamus, sembunyi-sembunyi dengan tesaurus, bersanding dengan permain kosakata dan membiak terus*
"Menulis itu kerja sama kepala dan hati, walaupun kadang-kadang ada yang mau menang sendiri."
"Apa yang dibuat dari hati adalah karya sejati."
"Pujian dan impresi adalah bonus. Tujuan sesungguhnya adalah untuk berkespresi."
"Membaca, seperti menyantap makanan, itu sesuai selera. Saya hanya koki kata-kata yang suka bermain dengan rempah nafsu, masih belajar pula. Akan sangat senang kalau kita belajar dan berkarya bersama."
*main serong dengan kamus, sembunyi-sembunyi dengan tesaurus, bersanding dengan permain kosakata dan membiak terus*
Sabtu, 05 Maret 2011
Jurnal Bantal 5 Maret 2011
Pada ruang dalam dada, namanya bergema -- berkali-kali, lagi dan lagi. Berpantulan di dinding hati. Apa namanya ini?
Dalam rongga kepala, pikiran-pikiran berlompatan tidak karuan.
*tarik nafas panjang*
Dalam rongga kepala, pikiran-pikiran berlompatan tidak karuan.
*tarik nafas panjang*
Jumat, 25 Februari 2011
Jurnal Bantal 25 Februari 2011
Dua hari yang lalu saya masih berpuisi tentang rindu.
Timanglah hatiku hingga kau renta, layaknya ombak yang tak letih membelai pantai. Angkasa dan samudera sahaja berjumpa di cakrawala. Lalu, bilakah kita? Cemburu ini meluap dari wadahnya.
Tetapi hari ini saat pujangga bersajak tentang rindu tak bertepi, saya terhenti di bibir tebing. Sungguhkah rindu tak bertepi? Realita membuka mata saya: bagian tersulit dari menjalani hubungan jarak jauh adalah menyadari bahwa tanpa dia sesungguhnya saya baik-baik saja. Lalu, rindu itu sembunyi di mana?
*mencari*
Timanglah hatiku hingga kau renta, layaknya ombak yang tak letih membelai pantai. Angkasa dan samudera sahaja berjumpa di cakrawala. Lalu, bilakah kita? Cemburu ini meluap dari wadahnya.
Tetapi hari ini saat pujangga bersajak tentang rindu tak bertepi, saya terhenti di bibir tebing. Sungguhkah rindu tak bertepi? Realita membuka mata saya: bagian tersulit dari menjalani hubungan jarak jauh adalah menyadari bahwa tanpa dia sesungguhnya saya baik-baik saja. Lalu, rindu itu sembunyi di mana?
*mencari*
Selasa, 22 Februari 2011
Jurnal Bantal 22 Februari 2011
Berapa kali kita tergoda untuk kembali pada hangatnya pelukan masa lalu, namun teringat bahwa memang bukan tempatnya lagi kita di situ? Setiap kali terhadang cobaan, pilihannya adalah maju menantang atau mundur mencari nyaman. Adakah pilihan ketiga? Ya ada, tidak berbuat apa-apa dan pasrah saja. Kemudian, nasihat yang paling jamak diterima adalah: “Sabar, semua ada hikmahnya”. Kalau sudah begitu, diskusi berlanjut pada batas sabar itu sendiri. Adakah sesungguhnya batas kesabaran? Bila dibatasi, apakah itu menjadi kebijaksanaan atau bukan? Perlukah kita menempatkan kata “cukup” pada waktu tertentu saat kita terjebak pada situasi menunggu dan atau bahkan terbelenggu? Seorang teman bercerita, begitu saatnya nanti menjadi seorang ibu, barulah merasa sabar itu tidak ada batasnya. Tentu saja dalam hal ini kesabaran pada buah hati. Pada suami? Saya tidak tahu. Jadi kalau masih belum berkeluarga begini, sepertinya saya belum siap untuk menjadi sabar tanpa batas – kalau memang benar hal demikian nyata adanya.
*Tuhan sedang mendidik saya untuk sabar, tapi kadang saya bolos dan malas belajar*
*Tuhan sedang mendidik saya untuk sabar, tapi kadang saya bolos dan malas belajar*
Senin, 21 Februari 2011
Jurnal Bantal 21 Februari 2011
Sejak kemarin malam saya mencumbu bantal di sebuah petirahan yang harga sewa semalamnya cukup untuk membeli skuter metik idaman saya. Itu harga sewa vila yang paling kecil. Yang paling mewah? Cukup untuk membeli mobil Jepang sederhana idaman keluarga Indonesia. Perlu saya sebut nama tempatnya? Begini, saya kasih petunjuk saja. Tujuh aksara – yang pertama B, yang terakhir I. Lokasinya di Uluwatu, Bali.
Bagaimana saya bisa dapat berkah mencicipi rasanya jadi orang kaya begini? Ini berkat welas asih sahabat saya, @yayaphan, sang fotografer handal yang sedang mendapat tugas liputan di sini. “Mari-mari,” katanya waktu itu, “saya selundupkan ke sini, sekalian temani saya yang takut tidur sendiri.” Siapa yang hendak menolak?
Dengan kolam renang mini pribadi, tiga pilihan tempat membasuh diri (di bak mandi, pancuran dalam dan luar ruangan) saya yang gemar main air tidak mengeluh sama sekali. Bagaimana bisa mengeluh? Belum lagi ranjangnya.. Oh ranjangnya.. Bulu apa itu isi bantalnya? Kalau ada istilah ‘bagaikan tidur di atas awan’ mungkin begini ini rasanya. Pemandangan yang menjelajah dari atas tebing sampai ke batas cakrawala menerbangkan lamunan seperti layang-layang. Maaf kalau saya berlebihan. Silakan, sebut saja saya kampungan, saya tidak keberatan. Hahaha.
Tapi saya tidak menulis ini untuk mengulas si petirahan kelas atas, yang bahkan bermimpi untuk kembali lagi ke sini saya belum berani (kecuali dibayari lagi). Beberapa kali saya ditinggal sendirian di vila – karena teman saya harus menunaikan tugasnya, membuat banyak pikiran yang berkejaran dalam kepala. Saya akan berbagi beberapa di antaranya.
Yang pertama, sudah berapa banyak pasangan penuh asmara bergelora yang menghabiskan bulan madunya di kamar ini? Di mana saja mereka bercinta, bersebadan di sudut-sudut ruang berdinding batu-kayu di sini? Apa semua keindahan di dunia akan tetap sama dirasa bila kita sedang patah hati? Karena sesungguhnya saya takut sendiri. Menginap di tempat begini, yang pertama terbayang adalah bagaimana rasanya bila kekasih saya bisa ikut menikmati semua ini bersama-sama. Untuk apa kekayaan, kesehatan, dan kebahagiaan dimiliki bila tidak punya orang untuk berbagi? Ngeri. Maaf, paragraf ini tidak dimaksudkan untuk menyindir orang yang memilih untuk selibat. Saya hanya berbagi pendapat.
Yang kedua, kalau uang bisa membeli segalanya (termasuk rasa), sampai manakah batasnya menjadi kaya? Sepertinya tidak ada. Tapi ketika kita sudah bisa memisahkan keinginan dengan kebutuhan, sepertinya menjadi “cukup” saja sudah bahagia. Bersyukur bisa menginginkan yang kita butuhkan tanpa harus membutuhkan yang kita inginkan. Begitu bukan?
Yang ketiga, bagaimanapun empuknya ranjang berbalut seprai terlembut dengan bantal sehalus gulali yang selalu wangi, tempat paling nyaman di dunia ini adalah dalam pelukan orang yang paling kita sayangi. Oh, dan saya menulis ini sambil tersenyum membayangkan dia.
*pipi saya merona diciumi matahari seharian tadi*
Bagaimana saya bisa dapat berkah mencicipi rasanya jadi orang kaya begini? Ini berkat welas asih sahabat saya, @yayaphan, sang fotografer handal yang sedang mendapat tugas liputan di sini. “Mari-mari,” katanya waktu itu, “saya selundupkan ke sini, sekalian temani saya yang takut tidur sendiri.” Siapa yang hendak menolak?
Dengan kolam renang mini pribadi, tiga pilihan tempat membasuh diri (di bak mandi, pancuran dalam dan luar ruangan) saya yang gemar main air tidak mengeluh sama sekali. Bagaimana bisa mengeluh? Belum lagi ranjangnya.. Oh ranjangnya.. Bulu apa itu isi bantalnya? Kalau ada istilah ‘bagaikan tidur di atas awan’ mungkin begini ini rasanya. Pemandangan yang menjelajah dari atas tebing sampai ke batas cakrawala menerbangkan lamunan seperti layang-layang. Maaf kalau saya berlebihan. Silakan, sebut saja saya kampungan, saya tidak keberatan. Hahaha.
Tapi saya tidak menulis ini untuk mengulas si petirahan kelas atas, yang bahkan bermimpi untuk kembali lagi ke sini saya belum berani (kecuali dibayari lagi). Beberapa kali saya ditinggal sendirian di vila – karena teman saya harus menunaikan tugasnya, membuat banyak pikiran yang berkejaran dalam kepala. Saya akan berbagi beberapa di antaranya.
Yang pertama, sudah berapa banyak pasangan penuh asmara bergelora yang menghabiskan bulan madunya di kamar ini? Di mana saja mereka bercinta, bersebadan di sudut-sudut ruang berdinding batu-kayu di sini? Apa semua keindahan di dunia akan tetap sama dirasa bila kita sedang patah hati? Karena sesungguhnya saya takut sendiri. Menginap di tempat begini, yang pertama terbayang adalah bagaimana rasanya bila kekasih saya bisa ikut menikmati semua ini bersama-sama. Untuk apa kekayaan, kesehatan, dan kebahagiaan dimiliki bila tidak punya orang untuk berbagi? Ngeri. Maaf, paragraf ini tidak dimaksudkan untuk menyindir orang yang memilih untuk selibat. Saya hanya berbagi pendapat.
Yang kedua, kalau uang bisa membeli segalanya (termasuk rasa), sampai manakah batasnya menjadi kaya? Sepertinya tidak ada. Tapi ketika kita sudah bisa memisahkan keinginan dengan kebutuhan, sepertinya menjadi “cukup” saja sudah bahagia. Bersyukur bisa menginginkan yang kita butuhkan tanpa harus membutuhkan yang kita inginkan. Begitu bukan?
Yang ketiga, bagaimanapun empuknya ranjang berbalut seprai terlembut dengan bantal sehalus gulali yang selalu wangi, tempat paling nyaman di dunia ini adalah dalam pelukan orang yang paling kita sayangi. Oh, dan saya menulis ini sambil tersenyum membayangkan dia.
*pipi saya merona diciumi matahari seharian tadi*
Langganan:
Postingan (Atom)
