Ini hanya sekedar catatan pendek saja. Bolehlah kau bilang surat cinta, kalau kau merasa sedemikian rupa.
Andaikan rasa itu bisa ditakar – seberapa besar kita mencinta, dan seberapa dalam kita menyimpan benci, mungkin sudah ada ilmuwan yang mendapatkan nobel dengan menciptakan formula menjalankan hubungan asmara. Bisakah dua sendok makan cemburu dicampur satu galon rindu menghasilkan cinta seluas samudera? Ataukah lima cangkir kecewa diaduk rata dengan sejumput curiga menjadikan benci semalam saja?
Hei, tidak ada rumus untuk membentuk emosi. Tidak ada penggaris yang mengukur dalamnya hati. Rasa tak dapat terdefinisi oleh angka, bila itu maumu. Dan satu lagi, kita tidak bisa memilih bagaimana inginnya merasa pada satu keadaan, tapi kita selalu bisa memilih bagaimana menyikapi perasaan yang kita simpan.
Sekian dan demikian.
Selasa, 08 Februari 2011
Senin, 07 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Lima: Untuk Hatiku yang Pilu)
Hatiku sayang,
Maafkan keteledoranku pagi tadi yang membuatmu tersungkur dengan pilu. Berawal dari rasa ingin tahu melihat video itu, aku tidak tahan membuka tautannya, dan akhirnya kamu harus merasa perihnya melihat manusia kehilangan kemanusiaannya. Tolong sampaikan maafku juga untuk kedua mata, Sayang. Mereka sempat tersedu ketika emosiku ikut membuncah. Tapi terlebih aku kuatirkan kamu, hatiku. Betapa kamu tidak kuat melihat ketertindasan, anarki, dan kebiadaban. Mendengar makian saja kamu terenyuh, apalagi harus menyaksikan ini yang beribu-ribu kali lipat lebih menghantam sukma. Kasihan kamu, hatiku, harus melihat bagaimana Tuhan yang sebetulnya tidak perlu dibela malah jadi alasan untuk menyiksa dan menghilangkan nyawa. Ke mana nurani mereka, aku juga tidak tahu. Entah bagaimana mereka bisa tidak punya hati begitu. Di bawah pengaruh substansi tertentu? Telah dicuci otak? Terhimpit keadaan dan tidak punya pilihan lain? Atau sesungguhnya mereka memang betul-betul bukan manusia? Mari kita berdoa malam ini, hatiku. Bukan hanya untuk korban yang teraniaya, tetapi juga untuk mereka yang semena-mena. Mari berdoa untuk jiwa mereka semua, dan membiarkan Tuhan yang jadi hakimnya.
Hatiku sayang,
Semoga malam ini kamu sudah baik-baik saja setelah kuajak bertamasya dan berkarya. Aku tahu, dibalik permukaanmu yang rentan itu kamu menyimpan kekuatan dan ketangguhan. Masih tersimpan banyak kasih di dalammu yang akan kubagi-bagi untuk sesama makhluk hidup. Semoga benih yang kita tebar itu bisa membuat penghuni bumi yang lain ikut menyebarkan cinta dan ketulusan. Karena dunia ini sudah terlalu gelap akan kedengkian. Mari kita mulai dari diri sendiri, Sayang. Karena setidaknya itulah yang bisa kita lakukan.
Penuh harapan,
Aku.
Maafkan keteledoranku pagi tadi yang membuatmu tersungkur dengan pilu. Berawal dari rasa ingin tahu melihat video itu, aku tidak tahan membuka tautannya, dan akhirnya kamu harus merasa perihnya melihat manusia kehilangan kemanusiaannya. Tolong sampaikan maafku juga untuk kedua mata, Sayang. Mereka sempat tersedu ketika emosiku ikut membuncah. Tapi terlebih aku kuatirkan kamu, hatiku. Betapa kamu tidak kuat melihat ketertindasan, anarki, dan kebiadaban. Mendengar makian saja kamu terenyuh, apalagi harus menyaksikan ini yang beribu-ribu kali lipat lebih menghantam sukma. Kasihan kamu, hatiku, harus melihat bagaimana Tuhan yang sebetulnya tidak perlu dibela malah jadi alasan untuk menyiksa dan menghilangkan nyawa. Ke mana nurani mereka, aku juga tidak tahu. Entah bagaimana mereka bisa tidak punya hati begitu. Di bawah pengaruh substansi tertentu? Telah dicuci otak? Terhimpit keadaan dan tidak punya pilihan lain? Atau sesungguhnya mereka memang betul-betul bukan manusia? Mari kita berdoa malam ini, hatiku. Bukan hanya untuk korban yang teraniaya, tetapi juga untuk mereka yang semena-mena. Mari berdoa untuk jiwa mereka semua, dan membiarkan Tuhan yang jadi hakimnya.
Hatiku sayang,
Semoga malam ini kamu sudah baik-baik saja setelah kuajak bertamasya dan berkarya. Aku tahu, dibalik permukaanmu yang rentan itu kamu menyimpan kekuatan dan ketangguhan. Masih tersimpan banyak kasih di dalammu yang akan kubagi-bagi untuk sesama makhluk hidup. Semoga benih yang kita tebar itu bisa membuat penghuni bumi yang lain ikut menyebarkan cinta dan ketulusan. Karena dunia ini sudah terlalu gelap akan kedengkian. Mari kita mulai dari diri sendiri, Sayang. Karena setidaknya itulah yang bisa kita lakukan.
Penuh harapan,
Aku.
Minggu, 06 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Empat: Untuk yang Membuatku Menangis)
Air mataku memang sudah kering malam ini. Sudah kubasuh wajahku dan kulenyapkan jejak deraian di pipi. Sepertinya luka di hati ini juga tidak akan pedih lebih lama lagi. Karena aku percaya, kamu yang bekerja sama dengan waktu akan membuatnya pulih dan berseri.
Aku bahagia karena kita bisa selalu berbicara. Berdiskusi, lalu saling mengerti dan menerima. Mustahil memang kalau berharap semua buah pikiran dan pendapat akan sama. Justru perbedaan itu yang membuat kita merasa kaya.
Sudah, sudah, aku sudah tidak menangis lagi. Yang sudah terjadi tidak usah disesali. Friksi kita akan selalu jadi jembatan untuk saling mengenali, dan bahan pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi di masa depan nanti. Nah, sekarang kemarilah, genggam tanganku lalu dekap di hati. Tapi jangan terlalu kencang, nanti aku menangis lagi.
Aku bahagia karena kita bisa selalu berbicara. Berdiskusi, lalu saling mengerti dan menerima. Mustahil memang kalau berharap semua buah pikiran dan pendapat akan sama. Justru perbedaan itu yang membuat kita merasa kaya.
Sudah, sudah, aku sudah tidak menangis lagi. Yang sudah terjadi tidak usah disesali. Friksi kita akan selalu jadi jembatan untuk saling mengenali, dan bahan pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi di masa depan nanti. Nah, sekarang kemarilah, genggam tanganku lalu dekap di hati. Tapi jangan terlalu kencang, nanti aku menangis lagi.
Sabtu, 05 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Tiga: Untuk yang Membuat Hatiku Bernyanyi)
Aku kehabisan kata-kata untuk surat cinta buatmu malam ini. Tapi kata orang, sebuah gambar bisa mengungkap seribu kata. Jadi, ini kugambar untukmu. Tentangmu.
Jumat, 04 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Dua: Untuk Cupid)
Sepuluh hari lagi, Cupid. Di tanggal 14 nanti waktu kasih sayang dirayakan dan jadi objek komersial paling menjual, kamu akan dipuja di mana-mana. Sudah siapkah anak-anak panah cintamu itu kauasah? Pastikan bidikanmu masih mantap dan busurmu masih lentur. Akan ada banyak anak manusia yang menagih asmara. Mereka akan mencari merah muda dan memetik bunga-bunga.
Tapi tunggu, akan ada lagi sebagian yan mencemoohmu. Mereka bilang seharusnya cinta dirayakan setiap hari. Entah alasannya karena memang ingin berbeda saja, tidak tahu mau merayakan dengan siapa, atau memang setulusnya begitu yang mereka percaya. Untuk mereka tanggal 14 Februari bukan tanggal yang istimewa.
Tapi jangan berkecil hati, Cupid. Surat cinta ini kukirimkan supaya kamu tetap semangat bekerja. Aku berada di tengah-tengah, di antara dua kubu mereka. Ya, memang kasih sayang harusnya terungkapkan setiap hari. Tetapi kadang terlalu sibuknya manusia tiap hari mencari sesuap nasi, mereka lupa dan tak punya waktu untuk bercinta. Jadi buatku, biarlah Hari Kasih Sayang tetap dirayakan sebagai pengingat akan pentingnya berbagi sesama makhluk-Nya.
Giatlah berlatih memanah, Cupidku, supaya tepat selalu bidikanmu. Sampai sepuluh hari lagi kita masih punya waktu. Sampai hari itu tiba, setiap malam aku masih akan giat menulis surat cinta, puisi penuh rasa, dan prosa sarat romansa.
Tapi tunggu, akan ada lagi sebagian yan mencemoohmu. Mereka bilang seharusnya cinta dirayakan setiap hari. Entah alasannya karena memang ingin berbeda saja, tidak tahu mau merayakan dengan siapa, atau memang setulusnya begitu yang mereka percaya. Untuk mereka tanggal 14 Februari bukan tanggal yang istimewa.
Tapi jangan berkecil hati, Cupid. Surat cinta ini kukirimkan supaya kamu tetap semangat bekerja. Aku berada di tengah-tengah, di antara dua kubu mereka. Ya, memang kasih sayang harusnya terungkapkan setiap hari. Tetapi kadang terlalu sibuknya manusia tiap hari mencari sesuap nasi, mereka lupa dan tak punya waktu untuk bercinta. Jadi buatku, biarlah Hari Kasih Sayang tetap dirayakan sebagai pengingat akan pentingnya berbagi sesama makhluk-Nya.
Giatlah berlatih memanah, Cupidku, supaya tepat selalu bidikanmu. Sampai sepuluh hari lagi kita masih punya waktu. Sampai hari itu tiba, setiap malam aku masih akan giat menulis surat cinta, puisi penuh rasa, dan prosa sarat romansa.
Kamis, 03 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh Satu: Untuk Kamu yang Belum Kembali)
Cepat pulang, Sayang. Karena Opera Van Java tidak sama rasanya kalau kamu tidak ada. Sule tidak selucu waktu aku menontonnya sambil dirangkul kamu!
Rabu, 02 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Puluh: Untuk Kembang Api Malam Ini)
Terima kasih sudah mewarnai langit dengan ledakanmu sesaat tadi, warna-warnimu menyemat bunga pada kelamnya angkasa. Pecahanmu di udara kunikmati dari balkon sendiri saja. Entah siapa lagi, entah di mana, yang menegadah dengan rasa yang sama – berpikir serupa saat percikmu mekar bergema. Sepi jugakah mereka?
Sekejap kamu mengingatkan bahwa sejatinya semua di dunia hanya sementara. Seperti cahayamu yang menyala lalu hilang dan terlupa.
Selamat tahun baru kelinci untuk kamu yang diletuskan untuk merayakannya!
Sekejap kamu mengingatkan bahwa sejatinya semua di dunia hanya sementara. Seperti cahayamu yang menyala lalu hilang dan terlupa.
Selamat tahun baru kelinci untuk kamu yang diletuskan untuk merayakannya!
Selasa, 01 Februari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Sembilan Belas: Untuk Bayangan Lelakiku)
Hei.
Sepertinya aku harus menulis surat cinta sendiri untuk kamu, bayangan lelakiku. Karena walaupun dia sedang tidak di sampingku, bahkan ribuan mil jauhnya, kamu selalu mengikutiku. Di kamar mandi waktu aku membasuh diri, di dalam cermin waktu aku berdandan pagi-pagi, di dalam piring waktu aku menyantap nasi, di pelupuk mata waktu aku menjemput mimpi, bahkan di layar komputer waktu aku mengetik ini. Kamu di mana-mana!
Aku sadar aku tidak bisa lepas darimu waktu aku mulai jatuh cinta padanya. Bilang saja aku gila. Mungkin aku memang tergila-gila. Tidak waras, tidak berakal sehat, tidak berlogika. Tapi daripada aku berusaha menghindarimu dan semakin tersiksa, aku telah sampai pada titik ‘menerima’. Rela aku diusik kamu di mana-mana, kalau memang beginilah gejala rindu serindu-rindunya. Toh dia yang di sana mengaku tak bisa lepas dari bayang-bayangku juga. Ketika kami tidak saling membayangkan itulah seharusnya aku mulai curiga. Jadi sekarang kehadiranmu di tiap hembusan nafas kunikmati saja.
Malam ini, kamu menemaniku sambil menyeruput cokelat hangat. Mengingat jejak kecupnya di bibirku yang masih lekat.
Sepertinya aku harus menulis surat cinta sendiri untuk kamu, bayangan lelakiku. Karena walaupun dia sedang tidak di sampingku, bahkan ribuan mil jauhnya, kamu selalu mengikutiku. Di kamar mandi waktu aku membasuh diri, di dalam cermin waktu aku berdandan pagi-pagi, di dalam piring waktu aku menyantap nasi, di pelupuk mata waktu aku menjemput mimpi, bahkan di layar komputer waktu aku mengetik ini. Kamu di mana-mana!
Aku sadar aku tidak bisa lepas darimu waktu aku mulai jatuh cinta padanya. Bilang saja aku gila. Mungkin aku memang tergila-gila. Tidak waras, tidak berakal sehat, tidak berlogika. Tapi daripada aku berusaha menghindarimu dan semakin tersiksa, aku telah sampai pada titik ‘menerima’. Rela aku diusik kamu di mana-mana, kalau memang beginilah gejala rindu serindu-rindunya. Toh dia yang di sana mengaku tak bisa lepas dari bayang-bayangku juga. Ketika kami tidak saling membayangkan itulah seharusnya aku mulai curiga. Jadi sekarang kehadiranmu di tiap hembusan nafas kunikmati saja.
Malam ini, kamu menemaniku sambil menyeruput cokelat hangat. Mengingat jejak kecupnya di bibirku yang masih lekat.
Langganan:
Postingan (Atom)
