B
Sayang, sudah saatnya meninggalkan ranjang yang lama, yang sudah setia memapah tubuh-tubuh manja tiga tahun lamanya.
Saya menelanjangi kasur itu dari seprai biru. Sudah banyak keringat terserap di situ. Teman-teman sejati, yang perempuan dan laki-laki. Teman-teman tidur, yang masih bisa dihitung sebelah tangan dengan jari. Ya, saya tidak semurah itu. Tidak semua pemuas nafsu boleh memajang kelaminnya di situ.
Kalau saja pandangan manusia mikroskopis, pasti terlihat nyata di sela-sela jahitan kasurnya: kutu ranjang menggerogoti serpihan-serpihan sel kulit kamu dan saya. Berpesta dari ampas gesekan kita tiap malam.
Ya, sudah saatnya mencari alas tidur baru, di tempat yang baru, di mana hanya ada kenangan kita berdua di situ. Bersih dari bayangan mantan-mantan kekasih yang masih gentayangan . Tempat baru yang tanpa dihantui masa lalu.
Ranjang lama ditinggalkan, pintu dikunci dari luar, lalu seprai biru dicuci dulu.
***
Sayang, mencari ranjang baru ternyata tidak semudah melinting ganja, yang tinggal diambil sejumput, diberi buntut, lalu digulung dan diberi kuncung. Lihat, kita sudah berkeliling berapa toko untuk mencari ranjang sesuai selera. Mana yang paling sesuai jadi tempat berbagi cinta dan berahi kita? Perlu berkelana kemana lagi untuk cari yang sesuai pilihan hati?
"Sayang, aku udah capek berkelana," katamu dua tahun lalu, ketika kamu menetapkan pendamping hidupmu: aku. "Aku gak mau lagi perempuan-perempuan lain, cuma kamu aja, istriku," jelasmu. Saat itu kita berjanji untuk berpetualang bersama, keliling dunia, berkasih sayang berdua di mana saja.
***
Jadi sekarang di sinilah kita, Sayang. Di atas kasur isi angin yang bisa kita bawa berkeliling dari benua ke benua. Ke mana saja. Pada waktunya nanti kita berpindah kota lagi, kasur ini akan terus menemani.
"Enak gak, Sayang?" tanyamu sambil membelai ubun-ubun kepalaku.
"Seksnya atau ranjangnya?" saya minta pertanyaan diperjelas. Karena ini pertama kali kita mencoba si kasur baru.
"Dua-duanya," jawabmu.
"Seksnya tidak pernah tidak enak. Kasurnya ternyata cukup enak."
"Iya, enak ya. Gak berisik."
"Maksudnya yang ngga berisik aku apa kasurnya?"
"Hahahah kasurnya. Kamu berisik sedikit. Tapi aku suka."
Saya tersenyum lalu membelai kasur baru yang berbaju seprai biru.
"Semoga aja kasurnya cukup tahan lama digenjot terus sama kita," katamu sebelum tidur.
Rabu, 15 September 2010
Selasa, 14 September 2010
Angka Untuk Saya
B
Kemarin saya berulang tahun yang ke-sekian. Tak perlu lah menyebut angka. Karena toh dalam hati saya selalu merasa hanya sedikit lebih tua dari remaja. Lagipula, menanyakan perempuan berapa umurnya sama saja seperti menanyakan berapa berat badannya. Jawaban yang akan kamu dapat belum tentu yang sejujurnya.
Saya memang tidak berharap dapat kado apa-apa dari A, tapi tetap saja ingin diperlakukan istimewa. Tadi malam saat kami bercengkrama tertawa-tawa, tiba-tiba dia berbisik, “Aku kasih kado buat kamu sepuluh permintaan.” “Asiik!” jawab saya spontan.
“Eh tunggu, tunggu..”
“Ngga bisa! Sepuluh! Udah kesebut!”
Mukanya lucu serba salah, merasa terburu-buru menyebut angka teralu besar. “Hahaha,” merasa menang, saya tertawa.
“OK, permintaan pertama!” bibir saya tersenyum lebar sekali saat mengucapkan kalimat ini, “Besok ikut aku ke rumah Mama.”
Mukanya makin lucu. Mama itu ibu saya. Dia bukannya tak suka pada Beliau yang melahirkan saya itu, tapi yah, bisa dibilang Mama bukanlah orang paling mudah yang pernah kautemui. Apalagi kepada pasangan anak-anaknya. Tapi ketika kita merasakan cinta tanpa syarat, hal itu bukanlah hambatan bukan? Dan A sebetulnya punya caranya sendiri menghadapi Mama, terutama di depan saya.
Pernah satu saat A melihat saya yang sedang menggigit permen kenyal rasa mangga dengan asiknya. Sepertinya saya terlihat menikmati sekali, sampai dia meminta satu bungkus yang belum saya buka. “Enak banget kelihatannya,” kata A sambil membuka bungkus permen. “Iya, ini dari Mama,” kata saya di saat yang sama permen itu masuk mulutnya. Dia langsung urung mengunyah permen mangga. “Pantas rasanya pahit,” katanya. Saya tertawa.
Baiklah, lanjut ke permintaan ke-dua. “Siap-siap ya Sayang,” kata saya menggoda. “Apa sih? Aduuh..” mukanya kuatir tapi tetap lucu. “Pijetin aku. Se-lu-ruh-ba-dan.” Saya tahu ini akan jadi permintaan yang menyenangkan untuk saya dan kurang berkenan untuknya. Sepanjang dua tahun kami bersama, semangatnya melemaskan otot-otot saya hanya di minggu pertama. Sisanya? Hanya pijat basa-basi atau pengantar sebelum ronde utama. Jadi malam ini saya minta badan pegal saya dilayani jemari, telapak , genggaman, bahkan siku tangan lelaki sang pujaan hati.
“Yaaah,” dia menghela nafas tapi tetap menurut mengambil body lotion favorit saya yang wangi cokelat. Pijatannya mulai merambah punggung saya. Karena memijat sambil nonton Fashion TV, kadang pijatannya berhenti ketika model kesukaannya tampil di layar televisi. “Heh!” hentak saya setiap gerakan tangannya berhenti. Dia lalu akan mulai memijat lagi sesuai arahan saya. “Ke bawah dikit, yak. Kebanyakan. Atas lagi. Kiri dikit. Nah,” begitu aba-aba si perempuan yang baru tambah usia ini.
“Udah,” serunya sambil menutup kembali botol body lotion. “Eits, kan aku bilang seluruh badan. Tangan belum. Kaki belum,” ujar saya sambil masih tengkurap. Tidak perlu membalik badan untuk tahu raut wajahnya masam. Saya terkekeh dalam hati. Tanpa belas kasihan.
Kali ini pijatannya lumayan, saya sampai terkantuk-kantuk, bahkan sampai pura-pura pulas ketika dia minta balik dilayani. “Hmmh, ngantuk,” kata saya dengan suara berat berbumbu serak, “Sayang tolong matiin dong tivinya, aku mau bobo.”
“Apa Sayang? Matiin tivi?”
“Iya,” kata saya setengah kesal.
“Oke, itu permintaan ke-tiga ya,” serunya dengan penuh nada kemenangan.
“Eh!” saya membuka mata kembali.
“Ngga bisa, udah kesebut!” Mukanya menggemaskan sekali.
Saya terjebak. Sejak itu, sampai detik ini, saya masih hati-hati meminta tolong padanya. Takut dia ingat kado ulang tahun itu dan memotong jatah saya.
Sepertinya kamu sudah bisa menebak siapa yang tadi malam tidur dengan senyum paling lebar. Angka hutangnya berkurang hanya dengan menekan tombol televisi.
Kemarin saya berulang tahun yang ke-sekian. Tak perlu lah menyebut angka. Karena toh dalam hati saya selalu merasa hanya sedikit lebih tua dari remaja. Lagipula, menanyakan perempuan berapa umurnya sama saja seperti menanyakan berapa berat badannya. Jawaban yang akan kamu dapat belum tentu yang sejujurnya.
Saya memang tidak berharap dapat kado apa-apa dari A, tapi tetap saja ingin diperlakukan istimewa. Tadi malam saat kami bercengkrama tertawa-tawa, tiba-tiba dia berbisik, “Aku kasih kado buat kamu sepuluh permintaan.” “Asiik!” jawab saya spontan.
“Eh tunggu, tunggu..”
“Ngga bisa! Sepuluh! Udah kesebut!”
Mukanya lucu serba salah, merasa terburu-buru menyebut angka teralu besar. “Hahaha,” merasa menang, saya tertawa.
“OK, permintaan pertama!” bibir saya tersenyum lebar sekali saat mengucapkan kalimat ini, “Besok ikut aku ke rumah Mama.”
Mukanya makin lucu. Mama itu ibu saya. Dia bukannya tak suka pada Beliau yang melahirkan saya itu, tapi yah, bisa dibilang Mama bukanlah orang paling mudah yang pernah kautemui. Apalagi kepada pasangan anak-anaknya. Tapi ketika kita merasakan cinta tanpa syarat, hal itu bukanlah hambatan bukan? Dan A sebetulnya punya caranya sendiri menghadapi Mama, terutama di depan saya.
Pernah satu saat A melihat saya yang sedang menggigit permen kenyal rasa mangga dengan asiknya. Sepertinya saya terlihat menikmati sekali, sampai dia meminta satu bungkus yang belum saya buka. “Enak banget kelihatannya,” kata A sambil membuka bungkus permen. “Iya, ini dari Mama,” kata saya di saat yang sama permen itu masuk mulutnya. Dia langsung urung mengunyah permen mangga. “Pantas rasanya pahit,” katanya. Saya tertawa.
Baiklah, lanjut ke permintaan ke-dua. “Siap-siap ya Sayang,” kata saya menggoda. “Apa sih? Aduuh..” mukanya kuatir tapi tetap lucu. “Pijetin aku. Se-lu-ruh-ba-dan.” Saya tahu ini akan jadi permintaan yang menyenangkan untuk saya dan kurang berkenan untuknya. Sepanjang dua tahun kami bersama, semangatnya melemaskan otot-otot saya hanya di minggu pertama. Sisanya? Hanya pijat basa-basi atau pengantar sebelum ronde utama. Jadi malam ini saya minta badan pegal saya dilayani jemari, telapak , genggaman, bahkan siku tangan lelaki sang pujaan hati.
“Yaaah,” dia menghela nafas tapi tetap menurut mengambil body lotion favorit saya yang wangi cokelat. Pijatannya mulai merambah punggung saya. Karena memijat sambil nonton Fashion TV, kadang pijatannya berhenti ketika model kesukaannya tampil di layar televisi. “Heh!” hentak saya setiap gerakan tangannya berhenti. Dia lalu akan mulai memijat lagi sesuai arahan saya. “Ke bawah dikit, yak. Kebanyakan. Atas lagi. Kiri dikit. Nah,” begitu aba-aba si perempuan yang baru tambah usia ini.
“Udah,” serunya sambil menutup kembali botol body lotion. “Eits, kan aku bilang seluruh badan. Tangan belum. Kaki belum,” ujar saya sambil masih tengkurap. Tidak perlu membalik badan untuk tahu raut wajahnya masam. Saya terkekeh dalam hati. Tanpa belas kasihan.
Kali ini pijatannya lumayan, saya sampai terkantuk-kantuk, bahkan sampai pura-pura pulas ketika dia minta balik dilayani. “Hmmh, ngantuk,” kata saya dengan suara berat berbumbu serak, “Sayang tolong matiin dong tivinya, aku mau bobo.”
“Apa Sayang? Matiin tivi?”
“Iya,” kata saya setengah kesal.
“Oke, itu permintaan ke-tiga ya,” serunya dengan penuh nada kemenangan.
“Eh!” saya membuka mata kembali.
“Ngga bisa, udah kesebut!” Mukanya menggemaskan sekali.
Saya terjebak. Sejak itu, sampai detik ini, saya masih hati-hati meminta tolong padanya. Takut dia ingat kado ulang tahun itu dan memotong jatah saya.
Sepertinya kamu sudah bisa menebak siapa yang tadi malam tidur dengan senyum paling lebar. Angka hutangnya berkurang hanya dengan menekan tombol televisi.
Minggu, 22 Agustus 2010
Malam Ini, Hanya Tiga Bait
Sejak kenal kamu, sering sekali bertemu muka dengan rindu. Bahkan kali ini ia datang bertamu pada malam beku. Hati saya rasanya ngilu.
Saya menangis tidak sengaja. Cuma kamu sahaja tempat untuk bermanja. Ini bukan pura-pura, tanpa kamu rasanya mau gila.
Tak ada lelaki lain sembunyi di balik selimut. Sungguh, hanya saya sendiri dengan nyali yang mengkerut. Takut kamu akan direnggut.
Saya menangis tidak sengaja. Cuma kamu sahaja tempat untuk bermanja. Ini bukan pura-pura, tanpa kamu rasanya mau gila.
Tak ada lelaki lain sembunyi di balik selimut. Sungguh, hanya saya sendiri dengan nyali yang mengkerut. Takut kamu akan direnggut.
Jumat, 06 Agustus 2010
kilabreT
Awalnya saya suka dengar suara.
Apa saja:
Gemericik hujan turun di balik jendela.
Suara dia bilang rindu saya.
Detak jantungnya yang memburu di telinga.
Nyanyian cintanya.
Dan bulir air mata yang mengalir tidak terasa.
Sekarang saya pilih sunyi saja.
Tidak ingin dengar apa-apa:
Suara dia jelaskan alasannya.
Derik pintu rahasia yang terbuka.
Denting beling piring yang dibanting pada lantai tak berdosa.
Isak yang tersangkut pita suara.
Dan langkah kaki yang kian menjauh entah kemana.
Saya tersenyum pada cermin di kamar sepi.
Andainya kamu yang merangkai kata-kata ini,
dan saya yang mencari makna puisi yang tersaji.
:kilabret nakiadnA
.kiratret nad atnic hutaj gnay umak ,atik aratnA
080808
Senin, 02 Agustus 2010
Bunuh Diri
Aku berbagi kesendirian
dengan genangan yang mengumpulkan rintik hujan,
dan bercakap-cakap dengan bayangan.
Tak pelak lagi, ruangku sepi.
Lamat-lamat bersenandung dalam hati,
"Aku punya kamu sampai mati."
Inginnya terlelap dalam selimut hangatmu.
Tapi besok kita pasti bertemu,
menenggak rindu yang malam ini kita ramu.
dengan genangan yang mengumpulkan rintik hujan,
dan bercakap-cakap dengan bayangan.
Tak pelak lagi, ruangku sepi.
Lamat-lamat bersenandung dalam hati,
"Aku punya kamu sampai mati."
Inginnya terlelap dalam selimut hangatmu.
Tapi besok kita pasti bertemu,
menenggak rindu yang malam ini kita ramu.
Minggu, 25 Juli 2010
Kalimat (Sok) Bijak
Tidur untuk melupakan memang enak.
Tapi bangun untuk menyelesaikan bikin tidur lebih nyenyak.
Tapi bangun untuk menyelesaikan bikin tidur lebih nyenyak.
Rabu, 21 Juli 2010
Kejutan!
B
Saya percaya bahwa salah satu resep menjaga kehangatan hubungan adalah dengan menyelipkan kejutan-kejutan di antara semua keterdugaan. Momen-momen kecil yang membuat nafas tertahan, di antara rutinitas dan kebiasaan.
Keterdugaan adalah ketika saya mendengar suara motor makin lama makin mendekat lalu berhenti di halaman. Kemudian langkah kaki yang menaiki anak tangga sampai berhenti di depan pintu kamar. Diteruskan dengan gemerincing kunci yang ditusukkan ke pintu, dan gagangnya yang diayunkan. Dari semua suara ini, sudah terduga A pasti pulang.
***
Kebiasaan adalah ketika A masuk kamar. Melepaskan tas dari pundaknya untuk diistirahatkan di pojok ruangan. Menanggalkan satu-persatu pakaiannya sampai tak bersisa, kemudian mencari minuman dingin di dalam kulkas. Dapat atau tidak dapat, dia lalu akan masuk kamar mandi untuk buang hajat dan bersih-bersih badan. Setelah itu A akan berbaring di samping saya di ranjang, sambil menanyakan remote televisi. Saya sudah terbiasa.
***
Kejutan adalah ketika dia baru mengomentari saya yang hanya pakai bikini sedari tadi. "Kok pakai baju renang?" tanya A. "Ini bikini," protes saya. "Iya sama aja." Dasar laki-laki.
Jadi begini, kenapa saya pakai bikini. Dua minggu lagi saya dan sekelompok teman-teman akan berlibur ke pantai. Saya hanya ingin memastikan badan saya masih pantas memakai baju renang dua potong ini. Lagipula, pakai bikini sepanjang hari bikin saya merasa seksi. "Begitu, Sayang. Ngerti?" tanya saya setelah selesai menjelaskan. Dia hanya terkekeh. "Aneh," katanya. Tidak komentar sama sekali soal saya merasa seksi.
Saya sepertinya bukan tipe perempuan yang haus pujian. Tapi sedikit-sedikit boleh juga kan, ingin merasa disanjung. Saya pura-pura tersinggung kemudian berlalu ke kamar mandi, meninggalkan dia di ranjang sendirian. "Eh, kok aku ditinggal? Mau ngapain?" tanya A. "Mandi," jawab saya pendek. Pintu kamar mandi saya kunci dari dalam, tanda supaya ia tidak menyusul. Malam ini saya ingin menikmati pancuran air sendirian.
Selesai mandi saya mendapati lampu indikasi ponsel saya berkedap-kedip. Ada pesan baru yang masuk saat saya membasuh diri tadi. Ah, dari A. Kejutan! Isi pesannya: After u read this, u should suck my c*ck. Ada-ada saja caranya meminta akur. Saya tidak jadi merajuk, dengan senang hati melayaninya.
***
Momen yang membuat nafas tertahan adalah ketika kami selesai bermain, dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Ini untuk kamu," katanya sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna biru. Tenggorokan saya sedikit tercekat. Oh, tidak. Saya membayangkan sebentuk perhiasan bersembunyi dalam kotak. Mungkin gelang, atau kalung. Yang pasti kotak ini sedikit terlalu besar untuk (hanya) cincin. "Sayang, apa ini?" tanya saya sambil pelan-pelan membuka hadiahnya.
Tidak ada untaian kalung, apalagi cincin atau anting-anting. Isinya harmonika mini yang sangat cantik. A tersenyum lalu mengambil sesuatu lagi dari dalam tasnya. Sebuah kotak dengan isi harmonika dengan ukuran lebih besar. "Supaya kita bisa main musik bareng," katanya.
Saya peluk A dengan sekuat tenaga. "Aku sayang banget sama kamu."
Saya percaya bahwa salah satu resep menjaga kehangatan hubungan adalah dengan menyelipkan kejutan-kejutan di antara semua keterdugaan. Momen-momen kecil yang membuat nafas tertahan, di antara rutinitas dan kebiasaan.
Keterdugaan adalah ketika saya mendengar suara motor makin lama makin mendekat lalu berhenti di halaman. Kemudian langkah kaki yang menaiki anak tangga sampai berhenti di depan pintu kamar. Diteruskan dengan gemerincing kunci yang ditusukkan ke pintu, dan gagangnya yang diayunkan. Dari semua suara ini, sudah terduga A pasti pulang.
***
Kebiasaan adalah ketika A masuk kamar. Melepaskan tas dari pundaknya untuk diistirahatkan di pojok ruangan. Menanggalkan satu-persatu pakaiannya sampai tak bersisa, kemudian mencari minuman dingin di dalam kulkas. Dapat atau tidak dapat, dia lalu akan masuk kamar mandi untuk buang hajat dan bersih-bersih badan. Setelah itu A akan berbaring di samping saya di ranjang, sambil menanyakan remote televisi. Saya sudah terbiasa.
***
Kejutan adalah ketika dia baru mengomentari saya yang hanya pakai bikini sedari tadi. "Kok pakai baju renang?" tanya A. "Ini bikini," protes saya. "Iya sama aja." Dasar laki-laki.
Jadi begini, kenapa saya pakai bikini. Dua minggu lagi saya dan sekelompok teman-teman akan berlibur ke pantai. Saya hanya ingin memastikan badan saya masih pantas memakai baju renang dua potong ini. Lagipula, pakai bikini sepanjang hari bikin saya merasa seksi. "Begitu, Sayang. Ngerti?" tanya saya setelah selesai menjelaskan. Dia hanya terkekeh. "Aneh," katanya. Tidak komentar sama sekali soal saya merasa seksi.
Saya sepertinya bukan tipe perempuan yang haus pujian. Tapi sedikit-sedikit boleh juga kan, ingin merasa disanjung. Saya pura-pura tersinggung kemudian berlalu ke kamar mandi, meninggalkan dia di ranjang sendirian. "Eh, kok aku ditinggal? Mau ngapain?" tanya A. "Mandi," jawab saya pendek. Pintu kamar mandi saya kunci dari dalam, tanda supaya ia tidak menyusul. Malam ini saya ingin menikmati pancuran air sendirian.
Selesai mandi saya mendapati lampu indikasi ponsel saya berkedap-kedip. Ada pesan baru yang masuk saat saya membasuh diri tadi. Ah, dari A. Kejutan! Isi pesannya: After u read this, u should suck my c*ck. Ada-ada saja caranya meminta akur. Saya tidak jadi merajuk, dengan senang hati melayaninya.
***
Momen yang membuat nafas tertahan adalah ketika kami selesai bermain, dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Ini untuk kamu," katanya sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna biru. Tenggorokan saya sedikit tercekat. Oh, tidak. Saya membayangkan sebentuk perhiasan bersembunyi dalam kotak. Mungkin gelang, atau kalung. Yang pasti kotak ini sedikit terlalu besar untuk (hanya) cincin. "Sayang, apa ini?" tanya saya sambil pelan-pelan membuka hadiahnya.
Tidak ada untaian kalung, apalagi cincin atau anting-anting. Isinya harmonika mini yang sangat cantik. A tersenyum lalu mengambil sesuatu lagi dari dalam tasnya. Sebuah kotak dengan isi harmonika dengan ukuran lebih besar. "Supaya kita bisa main musik bareng," katanya.
Saya peluk A dengan sekuat tenaga. "Aku sayang banget sama kamu."
Selasa, 20 Juli 2010
Brrmm.. Brrmmm..
B
Bercinta di dalam mobil memang menyenangkan. Tapi tak ada yang mengalahkan pemanasan di atas motor.
Memeluk lelaki di depan saya, mempercayakan hidup saya pada keterampilannya membawa kendaraan roda dua. Menyandarkan dada pada punggung gagahnya. "Terasa nggak detak jantung aku, Sayang?"
Kami dalam perjalanan pulang setelah bersenang-senang merayakan ulang tahun seorang teman. Kondisi kesadaran agak sedikit diragukan setelah menikmati asap hasil pembakaran dedaunan. Saya dan dia sudah tidak tahan, ingin segera pulang dan berbalas belaian.
Setang sebelah kanan diputarnya agar laju motor semakin kencang. Pelukan saya kian erat. Getaran mesin pada jok tempat saya duduk terasa seperti makin menggoda. Badan kami kian merapat.
Hari sudah gelap, dan jalanan tidak terlalu ramai. Kalau tidak begini, mungkin saya tidak akan berani. Berani bergerak, maksudnya. Bergerak memindahkan posisi tangan saya yang memeluk pinggangnya, perlahan-lahan turun sampai tiba di antara kedua kakinya. Jemari saya bermain di sana, dan mulai merasakan reaksi isi celananya. Mungkin karena konsentrasi sang pengemudi jadi berkurang, laju motor sedikit melambat. "Aku mau cepat sampai, Sayang."
Tangan kirinya menggapai ke belakang dan meraih betis saya. Diremasnya dengan gemas. Bila saja saya lupa ada helm di kepala, mungkin sudah saya gigit lehernya.
Bercinta di dalam mobil memang menyenangkan. Tapi tak ada yang mengalahkan pemanasan di atas motor.
Memeluk lelaki di depan saya, mempercayakan hidup saya pada keterampilannya membawa kendaraan roda dua. Menyandarkan dada pada punggung gagahnya. "Terasa nggak detak jantung aku, Sayang?"
Kami dalam perjalanan pulang setelah bersenang-senang merayakan ulang tahun seorang teman. Kondisi kesadaran agak sedikit diragukan setelah menikmati asap hasil pembakaran dedaunan. Saya dan dia sudah tidak tahan, ingin segera pulang dan berbalas belaian.
Setang sebelah kanan diputarnya agar laju motor semakin kencang. Pelukan saya kian erat. Getaran mesin pada jok tempat saya duduk terasa seperti makin menggoda. Badan kami kian merapat.
Hari sudah gelap, dan jalanan tidak terlalu ramai. Kalau tidak begini, mungkin saya tidak akan berani. Berani bergerak, maksudnya. Bergerak memindahkan posisi tangan saya yang memeluk pinggangnya, perlahan-lahan turun sampai tiba di antara kedua kakinya. Jemari saya bermain di sana, dan mulai merasakan reaksi isi celananya. Mungkin karena konsentrasi sang pengemudi jadi berkurang, laju motor sedikit melambat. "Aku mau cepat sampai, Sayang."
Tangan kirinya menggapai ke belakang dan meraih betis saya. Diremasnya dengan gemas. Bila saja saya lupa ada helm di kepala, mungkin sudah saya gigit lehernya.
Langganan:
Postingan (Atom)

