Jumat, 31 Desember 2010

Satu Puisi Satu Hari: #95 Belum Tamat

Sebuah akhir adalah sebuah awal.
Ada doa pada “selamat tinggal”.
Ada tujuan pada “sampai jumpa lagi”.
Ada harapan pada “semoga bahagia”.
Ada keyakinan pada “kita pasti bertemu lagi”.
Ya. Rindu sebelum waktunya adalah hanya bila rasa ada tenggatnya.
Dan “kita” sama sekali belum tamat.

Kamis, 30 Desember 2010

Satu Puisi Satu Hari: #94 Untuk Waktu

Bertambah usia bertambah lupa.
Seandainya bisa memilih yang membuat luka yang tersisihkan saja
mungkin kita tidak akan menghargai anugerah kesembuhan dan kembali tertawa.
Seinginnya menghapus seseorang dari kehidupan,
ingatlah bahwa dia pernah jadi bagian dari perjalanan yang membawa kita ke tempat sekarang,
tak peduli lama membekas atau hanya sebentar lalu hilang.
Waktu yang terbilang dalam hitungan kadang berlalu sambil berlari
kadang merangkak tiap berdetak.
Tetapi orang-orang yang meninggalkan jejak melewati batas-batas masa,
lalu abadi dalam memori.

Untuk yang pernah, atau selalu membenci: terima kasih telah membuatku lebih kuat lagi.
Untuk yang pernah, atau selalu mencinta: terima kasih telah membuatku merasa berharga.
Untuk yang meninggalkan: terima kasih telah mengingatkan, bahwa tak bisa selalu kudapat yang kuinginkan.
Untuk yang tetap tinggal: terima kasih telah memilih, bahwa kebersamaan adalah awal wujudkan khayal yang meskipun tidak kekal.

Satu Puisi Satu Hari: #93 =

Menjadi bahagia itu sederhana.
Namun menjadi sederhana itu bukan tanpa usaha.
Mensyukuri hal-hal sederhana itu langkah pertama.
Senyum dia = sederhana.

Selasa, 28 Desember 2010

Satu Puisi Satu Hari: #92 Dalam Hati

Hadiah terindah untukku pagi ini adalah pelukan serta-merta dalam lelapmu –
pertanda di bawah sadar kamu (tetap) merinduku.

Satu Puisi Satu Hari: #91 Sepertinya

Aku mencintaimu seperti sendok yang merasa dilengkapi oleh garpunya.
Seperti gembok yang rela ditusuk kunci yang meneguhkan fungsinya.
Seperti seprai yang enggan diganti karena nyaman memeluk kasurnya.
Seperti udang yang lelah bersembunyi di balik batu lalu bersatu dengan bakwannya.
Seperti metafora tentang romansa yang tak terbatas imajinasinya.

Satu Puisi Satu Hari: #90 Busuk

Seorang pembohong buang air besar lewat mulutnya,
atau setidaknya menelurkan kata-kata yang sama busuknya dengan ampas makanan setelah lewat proses cerna.
Setelah itu ia cuci tangan.
Heran.
Kenapa bukan mulutnya yang dibasuh untuk bicara kebenaran?

Minggu, 26 Desember 2010

Satu Puisi Satu Hari: #89 Natal

Aku mengenal Dia yang mencintai segala bangsa segala usia segala warna;
Bapa yang mendengar semua doa semua pinta semua kecewa;
Raja Mulia sekarang dan selamanya.

Tuhan yang kuajak bicara dalam setiap sujud ragawi
dalam kepercayaan dan iman untuk wujud surgawi,
aku mengingat Engkau yang Mahamencintai
dan layak atas segala puja-puji.

Aku yang di hadirat-Mu bahkan tiada debu sebutir,
kendatipun penuh kasih di tiap tanyaku Engkau hadir.
Tak sampai akal pikir,
tak sampai puisi ini pada akhir.
Terlampau agung Tuhan untuk sekedar jadi catatan pinggir.

Satu Puisi Satu Hari: #88 Rumah

Kamu adalah rumahku.
Aku rindu kembali ke kamarku di situ –
di antara dua kakimu.
Siap-siap, sebentar lagi aku pulang,
Masuk tanpa ketuk pintu.