Kamis, 09 Desember 2010

Satu Puisi Satu Hari: #71 Tanggal Merah

Mari buat Selasa ini menyenangkan!
Biasanya ia kurang perhatian –
karena datang setelah Senin yang banyak dibenci
dan masih jauh dari libur akhir minggu.
Ayo tersenyum, Selasa! Pancarkan harimu secerah-cerahnya.
Walaupun aku tahu, gerimis pun kamu tetap manis.

Satu Puisi Satu Hari: #70 Syarat

Cinta tanpa syarat itu bukan “mencintai karena”, melainkan “mencintai walaupun”.
Jaraknya sejauh apa engkau bersedia menyentuh hati dengan segala kerelaan yang kauhimpun.
Sementara syarat tanpa cinta itu cuma syahwat.
Jaraknya hanya selemparan cawat.

Satu Puisi Satu Hari: #69 Bangsat!

Kata-kata umpatan, makian, dan sumpah serapah tidak membuatmu terlihat tegar.

Tidak pula pintar.

Hanya kasar.

Sabtu, 04 Desember 2010

Satu Puisi Satu Hari: #68 260908-041210

Ya, sejak awal kamu sudah menjelaskan dan aku sudah cukup mengerti.
Ini bukan perkara tidur bersama hanya semalam, tapi juga bukan cinta yang abadi.
Cinta yang kamu punya ini manusiawi, akan kaucoba rawat selama-lamanya sampai kamu mati.
Dan karena kamu tidak bermulut manis mengucap janji, kepadamu aku berikan seluruh hati.
Jadi tunggu, waktu aku bertanya apakah kamu sungguh pasangan jiwaku itu bukannya aku ragu.
Hanya manja ingin mendengarnya keluar dari mulut kamu.

Satu Puisi Satu Hari: #67 Ckckckck

Malam mencuri celana dalamku.
Bulan sembunyi di balik awan, tak mau mengaku.
Burung Hantu tertawa: kuu kuu kuu.
Cicak tak pernah memihak, tak pernah berkomentar -- hanya berdecak.

Kamis, 02 Desember 2010

Satu Puisi Satu Hari: #66 Jawaban

Bunda Mata Hari mengetuk pintu kamarku.
Sudah hampir siang, aku tahu.
Tapi, ah, nanti dulu.
Masih ada waktu untuk tidak terburu-buru.
Walaupun begitu, kubuka sajalah pintu.
Oh, kutemukan kejutan, bingkisan menanti di kaki.
Dan aku akhirnya mengerti:
Tuhan menjawab doaku agak lama
karena dibungkus dulu pakai kertas kado aneka warna
dan hiasan pita-pita.
Kalau kita sabar, hadiahnya lebih bagus ya ternyata.
Tuhan bisa saja
kasih jawaban waktu tak diduga.

Rabu, 01 Desember 2010

Satu Puisi Satu Hari: #65 Kemarau

Lihat, Baskara tiba dengan dandanan mentereng.
Jubahnya kuning menyala mencolok mata,
kerahnya gemerlapan bertatahkan permata.
Wajahnya, oh, wajahnya!
Sejak kapan ia mulai bersolek demikian rupa?
Hey, Baskara! Hendak bertandang kemana?
Masakan ada pesta dan aku tak turut digandeng?
Hari ini aku mengundang semua
karena penghujan telah berlalu.
Semalam angin berbisik lewat tangkai-tangkai bambu
dan pagi ini kupancarkan cahaya seterik-teriknya.

Sebentar, biar kupilih dulu gaun terbuka
punyaku yang paling menganga
biar seluas-luasnya bidang kulitku
terbelai surai-surai sinarmu.
Lalu tetes-tetes keringatku akan berkilau.
Turut berbahagia untukmu, Baskaraku, selamat kemarau.

Satu Puisi Satu Hari: #64 12

Selamat datang, bulan ke-dua belas!
Semoga masih memberi kesempatan
bermain kata-kata untuk pekerjaan
yang kusebut kesenangan
dan berkarya untuk diri sendiri
yang kusebut rekreasi.
Semoga menjadi hitungan terakhir
untuk lepas landas di dua ribu sebelas.