Bahagia menjadi sedikit kurang sederhana
Tapi saya tidak menolak bila ada kali ke-dua
Menyeruput gelato di kios berhias neon dekat alun-alun waktu purnama
Sambil menapaki jalan-jalan berbatu di kota kecil di Italia
Mungkin bila bulan madu kita?
Senin, 17 Oktober 2011
1Puisi1Hari: #7 Kawin Paksa
Miris
Cincin di jari manis meringis
Ia dipinang oleh rasa bersalah
Dengan dendam ia menikah
Malu
Kepalkan tangan sembunyi-sembunyi
Meski didendangkan bidadari
Keputusan telah terketuk palu
Percayalah. Semua akan indah.
Pada waktunya. Tidak terpaksa.
Cincin di jari manis meringis
Ia dipinang oleh rasa bersalah
Dengan dendam ia menikah
Malu
Kepalkan tangan sembunyi-sembunyi
Meski didendangkan bidadari
Keputusan telah terketuk palu
Percayalah. Semua akan indah.
Pada waktunya. Tidak terpaksa.
1Puisi1Hari: #6 Vakansi
Aku ingin rekreasi menuju lekuk-lekuk tubuhnya.
Telusuri gunung dan lembah kulit hangatnya.
Mereguk segar mata air dalam senyum tulusnya.
Mengulum bulat-bulat manis buah tak terpetik.
Bermanja-manja dalam rasa bagai terculik.
Vakasi, melarikan diri dari realita tak terusik.
*seperti diperkosa, padahal rela*
Telusuri gunung dan lembah kulit hangatnya.
Mereguk segar mata air dalam senyum tulusnya.
Mengulum bulat-bulat manis buah tak terpetik.
Bermanja-manja dalam rasa bagai terculik.
Vakasi, melarikan diri dari realita tak terusik.
*seperti diperkosa, padahal rela*
Jumat, 14 Oktober 2011
1Puisi1Hari: #5 Ini Hanya Masalah Waktu
maafkan, sayang
masa laluku tidak ternilai
tak akan terbeli bila kautawar
tapi ini, ambillah masa depanku
yang untukmu sebenarnya sudah laku
sekalipun tidak kujual
di etalase terpajang wajah anak-anak kita
menunggu dibayar dengan tunai
mata uang yang berlaku: kepingan hati
masa laluku tidak ternilai
tak akan terbeli bila kautawar
tapi ini, ambillah masa depanku
yang untukmu sebenarnya sudah laku
sekalipun tidak kujual
di etalase terpajang wajah anak-anak kita
menunggu dibayar dengan tunai
mata uang yang berlaku: kepingan hati
1Puisi1Hari: #4 Empat
Sungguhnya jarak ini tak bersekat
Hembus nafas membelai wajah, hangat
Mata beradu tatap, lekat
Detak jantung terdengar lamat-lamat
Mohon jawabannya, Sahabat
Bila dia semakin dekat,
kenapa gelombang rindu semakin hebat?
Hembus nafas membelai wajah, hangat
Mata beradu tatap, lekat
Detak jantung terdengar lamat-lamat
Mohon jawabannya, Sahabat
Bila dia semakin dekat,
kenapa gelombang rindu semakin hebat?
Rabu, 12 Oktober 2011
1Puisi1Hari: #3 Sudah Lupa
Sampai berjumpa lagi, lelaki pembunuh rasa.
Kamu, akan kusimpan bagai sketsa kemarin sore.
Dia, akan kujelang seperti kabut esok pagi,
dan malam kami akan berhias kunang-kunang.
Aku, melupakanmu di atas ranjang berkelambu.
Kamu, akan kusimpan bagai sketsa kemarin sore.
Dia, akan kujelang seperti kabut esok pagi,
dan malam kami akan berhias kunang-kunang.
Aku, melupakanmu di atas ranjang berkelambu.
Selasa, 11 Oktober 2011
1Puisi1Hari: #2 Misuh
Senin, 10 Oktober 2011
1Puisi1Hari: #1 Hidung
Bulu mata palsu lambaikan salam tanpa malu.
Ketika Hidung Belang mencari nirwana
yang terselip di antara kaki betina.
Gincu serona ungu jadi tanda lunasnya nafsu.
Ketika kumis tipis belai bibir Pelacur
yang malam ini tak jadi menganggur.
Selesai di ronde pertama – tiada pemenang maupun pecundang.
Ingat anak-istri, Hidung Belang lalu pulang.
Dan Pelacur kembali menjalang.
Cat kuku merah jambu jadi saksi bisu.
Ketika lubang hidung diperkosa kelingking
yang merampas paksa upil kering.
Ketika Hidung Belang mencari nirwana
yang terselip di antara kaki betina.
Gincu serona ungu jadi tanda lunasnya nafsu.
Ketika kumis tipis belai bibir Pelacur
yang malam ini tak jadi menganggur.
Selesai di ronde pertama – tiada pemenang maupun pecundang.
Ingat anak-istri, Hidung Belang lalu pulang.
Dan Pelacur kembali menjalang.
Cat kuku merah jambu jadi saksi bisu.
Ketika lubang hidung diperkosa kelingking
yang merampas paksa upil kering.
Langganan:
Postingan (Atom)