Aku murung, tidak suka tidur sendiri. Tidak ada dia waktu menoleh ke kiri. Tidak ada saling rebut selimut. Tidak ada saling jajah wilayah. Ranjang ini terlalu luas untuk tanpa dia kutiduri.
Wahai sisi ranjang yang kosong, izinkan aku mengendus sisa baunya darimu. Sebentar saja, untuk obati rindu.
Senin, 31 Januari 2011
Minggu, 30 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Tujuh Belas: Untuk 20-08-2008)
Untuk Rabu, 20 Agustus 2008.
Aku cinta kamu, Rabu yang tidak kelabu. Senja itu pertama kali aku dan dia bertemu. Muka bertatap muka. Aura berjumpa aura. Masing-masih mengucap dalam batin, “Oh, ini dia wujud aslinya”. Setelah setahun bercakap lewat kata-kata yang terketik saja. Belum ada rasa hari itu, tentu saja. Toh aku pun masih ada yang punya.
Betapa ironisnya, Rabu, di tanggal yang dulu terencana sebagai tanggal cantik aku disunting lelaki lain, Sang Esa mempertemukanku dengan dia yang sekarang terbaik untukku. Aku ingat kamu, Rabu. Hari itu aku melihat senyumnya pertama kali. Melihat bibirnya menciptakan suara saat bercerita, dalam perjalanan menemuiku hari itu topi kesayangannya terjatuh dan hilang. Dan aku menandai kamu sebagai hari pertama aku bimbang.
Hari-hari setelah kamu, Rabu, saat aku jauh dari Tanah Air dimulailah proses lahir dan batin menuju keputusan besar dalam hidupku. Pengalaman dan pelajaran baru yang penuh berkat dari-Nya membuka sekat-sekat baru dalam pikiran, menuntunku pada sebuah babak baru. Dan akhirnya aku mengerti, saat kamu datang itu aku memang dipertemukan dengannya untuk mencegahku kembali jatuh ke lubang yang sama lagi, untuk yang ke-sekian kali. Kembali aku amini, tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan.
Sudah lebih dari dua tahun sejak kamu, Rabu. Aku bersyukur sampai sekarang tanggal yang sama masih kurayakan bersama dia. Semoga perjalanan kami bersama akan berlangsung lama. Terus, terus, terus tanpa putus.
Terima kasih, Rabu 20 Agustus 2008. Kamu hari pertama kami bertemu.
Aku cinta kamu, Rabu yang tidak kelabu. Senja itu pertama kali aku dan dia bertemu. Muka bertatap muka. Aura berjumpa aura. Masing-masih mengucap dalam batin, “Oh, ini dia wujud aslinya”. Setelah setahun bercakap lewat kata-kata yang terketik saja. Belum ada rasa hari itu, tentu saja. Toh aku pun masih ada yang punya.
Betapa ironisnya, Rabu, di tanggal yang dulu terencana sebagai tanggal cantik aku disunting lelaki lain, Sang Esa mempertemukanku dengan dia yang sekarang terbaik untukku. Aku ingat kamu, Rabu. Hari itu aku melihat senyumnya pertama kali. Melihat bibirnya menciptakan suara saat bercerita, dalam perjalanan menemuiku hari itu topi kesayangannya terjatuh dan hilang. Dan aku menandai kamu sebagai hari pertama aku bimbang.
Hari-hari setelah kamu, Rabu, saat aku jauh dari Tanah Air dimulailah proses lahir dan batin menuju keputusan besar dalam hidupku. Pengalaman dan pelajaran baru yang penuh berkat dari-Nya membuka sekat-sekat baru dalam pikiran, menuntunku pada sebuah babak baru. Dan akhirnya aku mengerti, saat kamu datang itu aku memang dipertemukan dengannya untuk mencegahku kembali jatuh ke lubang yang sama lagi, untuk yang ke-sekian kali. Kembali aku amini, tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan.
Sudah lebih dari dua tahun sejak kamu, Rabu. Aku bersyukur sampai sekarang tanggal yang sama masih kurayakan bersama dia. Semoga perjalanan kami bersama akan berlangsung lama. Terus, terus, terus tanpa putus.
Terima kasih, Rabu 20 Agustus 2008. Kamu hari pertama kami bertemu.
Sabtu, 29 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Enam Belas: Untuk Siapa?)
Untuk yang pernah mampir di hati lalu angkat kaki.
Ini bukan surat cinta biasa. Ini surat pernah cinta, karena dulu ada rasa tapi sekarang sudah tidak ada. Bukan juga untuk menggali yang pernah ditimbun, tetapi memupuk yang sekarang ditanam. Kamu, kamu, kamu, dan kamu.. Eh tunggu, aku lupa menghitung surat ini untuk siapa saja. Yah, sebut saja kalian. Kalian setuju kan, masa lalu itu sudah tertimbun dan bibit baru sudah tertanam?
Ini hanya sekedar ucapan terima kasih atas pelajaran yang telah diberikan. Aku mendewasa melewati masa dengan masing-masing kalian. Setiap pelajaran berakhir dengan ujian, dan aku lulus lalu naik tingkat sampai sekarang yang ke-sekian. Kalian bukan kegagalan, bukan pula batu loncatan, tetapi bagian dari hidup sebagai kurikulum pendidikan. Makin lama aku makin mengerti hati dan perasaan. Sekali lagi terima kasih, para mantan.
Surat pernah cinta ini cukup sekian dan demikian. Aku tidak mau pasangan kalian sekarang keburu cemburu.
Dari aku, yang sudah tidak seperti yang dulu.
Ini bukan surat cinta biasa. Ini surat pernah cinta, karena dulu ada rasa tapi sekarang sudah tidak ada. Bukan juga untuk menggali yang pernah ditimbun, tetapi memupuk yang sekarang ditanam. Kamu, kamu, kamu, dan kamu.. Eh tunggu, aku lupa menghitung surat ini untuk siapa saja. Yah, sebut saja kalian. Kalian setuju kan, masa lalu itu sudah tertimbun dan bibit baru sudah tertanam?
Ini hanya sekedar ucapan terima kasih atas pelajaran yang telah diberikan. Aku mendewasa melewati masa dengan masing-masing kalian. Setiap pelajaran berakhir dengan ujian, dan aku lulus lalu naik tingkat sampai sekarang yang ke-sekian. Kalian bukan kegagalan, bukan pula batu loncatan, tetapi bagian dari hidup sebagai kurikulum pendidikan. Makin lama aku makin mengerti hati dan perasaan. Sekali lagi terima kasih, para mantan.
Surat pernah cinta ini cukup sekian dan demikian. Aku tidak mau pasangan kalian sekarang keburu cemburu.
Dari aku, yang sudah tidak seperti yang dulu.
Jumat, 28 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Lima Belas: Untuk Cokelat Hangat di Sudut Bibirmu)
Hei, kamu.
Tolong sampaikan surat ini untuk setitik cokelat hangat yang tersisa di sudut bibirmu itu. Manisnya membuatku bernafsu. Ingin aku mengecapnya dengan ujung lidahku. Setelah itu, sebenarnya terserah kamu, mau mengejarnya kembali dengan lidahmu di antara liur dalam mulutku, atau membiarkan aku meracik segelas lagi cokelat hangat untuk kutuliskan surat cinta.
Aku yang gemas mengulum bibir sendiri.
Tolong sampaikan surat ini untuk setitik cokelat hangat yang tersisa di sudut bibirmu itu. Manisnya membuatku bernafsu. Ingin aku mengecapnya dengan ujung lidahku. Setelah itu, sebenarnya terserah kamu, mau mengejarnya kembali dengan lidahmu di antara liur dalam mulutku, atau membiarkan aku meracik segelas lagi cokelat hangat untuk kutuliskan surat cinta.
Aku yang gemas mengulum bibir sendiri.
Kamis, 27 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Empat Belas: Untuk Pasir di Kakiku)
Kamu mungkin tidak tahu, betapa rindu aku merasamu menyusupi sela-sela jemari kakiku. Sampai tadi kita berjumpa lagi di Pantai Geger. Kamu yang hangat terpanggang mentari menyambut telapakku yang telanjang. Lembut sangat. Kukira tadi pertemuan kita singkat sekali, terpotong hujan yang nyaris tidak berhenti. Tetapi malam ini saat aku beranjak tidur dan cuci kaki, kutemukan sebutirmu terselip di bawah kuku. Oh, ternyata kamu pun berat melepasku. Malam ini aku akan lelap karena ternyata cinta ini tidak bertepuk sebelah tangan.
Rabu, 26 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Tiga Belas: Untuk.. Ah, Lagi-Lagi Kamu)
Hebat!
Lagi-lagi kamu yang mengalirkan energi dari hati dan otakku beriring-iringan. Energi yang menuju ujung jemari membuat ungkapan perasaan menjadi barisan kalimat pernyataan: surat cinta. Diberi makan apa sih kamu waktu kecil sama ibumu, kok bisa hebat begitu? Rasanya ini ya, padamu, seperti kena guna-guna. Walaupun aku tahu kenyataannya tidak begitu, karena bagaimanapun kau mantrai aku, ‘dukun’ Yang Mahaagung itu kupercayai lebih hebat dari dukunmu!
Dia Yang Mahahebat itu yang mempertemukan garis hidup kita di persimpangan jalan. Aku percaya, tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan. Nah, itu yang aku pertanyakan. Untuk apa rasa sehebat ini Dia ciptakan? Bila setiap orang ditiupkan nafas kehidupan untuk suatu tujuan, bagaimana dengan kita? Dua manusia yang saling jatuh hati dipersatukan atas nama cinta. Untuk apa?
Aku mengagumimu untuk setiap karya yang kaucipta. Aku menghormati tiap sumbangsihmu pada sesama. Aku mengherani buah pikiranmu yang tidak biasa. Aku terpesona tubuhmu yang menggoda. Tapi jangan tanyakan alasanku jatuh cinta, aku tidak punya jawabannya.
Jadi sayangku, kalau boleh sedikit kutarik kesimpulan malam ini. Yang kutahu, sejak bertemu kamu, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik. Dan kalau senyatanya kamu tidak diciptakan untuk bersanding denganku sampai nafas yang terakhir terhembus dari mulutku, kenanglah ini: aku bersyukur Dia pernah mempertemukan kita dan mengizinkanku mencicipi bahagia – apapun tujuanNya.
Lagi-lagi kamu yang mengalirkan energi dari hati dan otakku beriring-iringan. Energi yang menuju ujung jemari membuat ungkapan perasaan menjadi barisan kalimat pernyataan: surat cinta. Diberi makan apa sih kamu waktu kecil sama ibumu, kok bisa hebat begitu? Rasanya ini ya, padamu, seperti kena guna-guna. Walaupun aku tahu kenyataannya tidak begitu, karena bagaimanapun kau mantrai aku, ‘dukun’ Yang Mahaagung itu kupercayai lebih hebat dari dukunmu!
Dia Yang Mahahebat itu yang mempertemukan garis hidup kita di persimpangan jalan. Aku percaya, tidak ada yang kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan. Nah, itu yang aku pertanyakan. Untuk apa rasa sehebat ini Dia ciptakan? Bila setiap orang ditiupkan nafas kehidupan untuk suatu tujuan, bagaimana dengan kita? Dua manusia yang saling jatuh hati dipersatukan atas nama cinta. Untuk apa?
Aku mengagumimu untuk setiap karya yang kaucipta. Aku menghormati tiap sumbangsihmu pada sesama. Aku mengherani buah pikiranmu yang tidak biasa. Aku terpesona tubuhmu yang menggoda. Tapi jangan tanyakan alasanku jatuh cinta, aku tidak punya jawabannya.
Jadi sayangku, kalau boleh sedikit kutarik kesimpulan malam ini. Yang kutahu, sejak bertemu kamu, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik. Dan kalau senyatanya kamu tidak diciptakan untuk bersanding denganku sampai nafas yang terakhir terhembus dari mulutku, kenanglah ini: aku bersyukur Dia pernah mempertemukan kita dan mengizinkanku mencicipi bahagia – apapun tujuanNya.
Selasa, 25 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Dua Belas: Untuk Kupu-Kupu dalam Perutku)
Wahai Kupu-Kupu,
Terima kasih sudah hadir lagi malam ini, menggelepar-gelepar dalam perutku. Aku suka kamu, dan rasa yang kauciptakan waktu aku terpesona, lalu jatuh cinta malu-malu.
Aku yang kini tersipu-sipu.
Terima kasih sudah hadir lagi malam ini, menggelepar-gelepar dalam perutku. Aku suka kamu, dan rasa yang kauciptakan waktu aku terpesona, lalu jatuh cinta malu-malu.
Aku yang kini tersipu-sipu.
Senin, 24 Januari 2011
#30HariMenulisSuratCinta (Hari Sebelas: Untuk Langit)
Untuk: Langit.
Sesungguhnya ini adalah surat pengakuan cinta untukmu, bagaimana kusimpan kekaguman padamu yang elok. Menengadah dan menikmati yang tersaji amatlah seronok.
Merahmu di mekarnya fajar yang mengiring kokok Sang Jago memanggilku untuk mengucap syukur akan datangnya hari baru. Lalu naiknya Mentari menuntun barisan awan yang menggoda imajinasi. Aku berani sumpah, kadang kulihat awan mengikuti bentuknya sejoli yang sedang bercinta. Romantis sekali. Langit yang terindah, aku ikut murung ketika kamu kelabu dan mendung. Ikut sedih ketika kamu menangis, merajuk, dan mengamuk dengan kilat dan guntur. Tapi Bunda Alam dan Ibu Bumi tentu memberi waktumu untuk menurunkan hujan bukan tanpa alasan, bukan? Karena sehabis itu kamu pasti menghiburku dengan mahakarya pelangi. Belum lagi jingganya senja. Sedari kecil yang kupuja lukisan wajahmu yang merona mengantar kawanan burung kembali ke Utara. Bahkan saat kamu menggelap pertanda malam, Langitku sayang. Saat gaunmu bersih, kupuja beludru itu yang berhias pendarnya bulan dan kilaunya gemintang.
Jadi, inilah surat pengakuan cinta untukmu. Siang tadi waktu aku dan lelakiku berbaring di rumput menikmati hamparan biru, kamulah yang sungguhnya mengisi hatiku.
Dari: Perempuan yang ingin terbang menciummu.
Sesungguhnya ini adalah surat pengakuan cinta untukmu, bagaimana kusimpan kekaguman padamu yang elok. Menengadah dan menikmati yang tersaji amatlah seronok.
Merahmu di mekarnya fajar yang mengiring kokok Sang Jago memanggilku untuk mengucap syukur akan datangnya hari baru. Lalu naiknya Mentari menuntun barisan awan yang menggoda imajinasi. Aku berani sumpah, kadang kulihat awan mengikuti bentuknya sejoli yang sedang bercinta. Romantis sekali. Langit yang terindah, aku ikut murung ketika kamu kelabu dan mendung. Ikut sedih ketika kamu menangis, merajuk, dan mengamuk dengan kilat dan guntur. Tapi Bunda Alam dan Ibu Bumi tentu memberi waktumu untuk menurunkan hujan bukan tanpa alasan, bukan? Karena sehabis itu kamu pasti menghiburku dengan mahakarya pelangi. Belum lagi jingganya senja. Sedari kecil yang kupuja lukisan wajahmu yang merona mengantar kawanan burung kembali ke Utara. Bahkan saat kamu menggelap pertanda malam, Langitku sayang. Saat gaunmu bersih, kupuja beludru itu yang berhias pendarnya bulan dan kilaunya gemintang.
Jadi, inilah surat pengakuan cinta untukmu. Siang tadi waktu aku dan lelakiku berbaring di rumput menikmati hamparan biru, kamulah yang sungguhnya mengisi hatiku.
Dari: Perempuan yang ingin terbang menciummu.
Langganan:
Postingan (Atom)