Selasa, 08 November 2011

1Puisi1Hari: #22 Sebelum dan Sesudah

Rindu itu tumbuh, hujan menyuburkannya.


Rindu itu kembali. Ia hanyut dengan mimpi semalam tadi, namun terbit lagi seiring mentari.

Selasa, 01 November 2011

1Puisi1Hari: #21 Menyerah Pada Hari Minggu

Tentang hari yang disiapkan Tuhan untuk berhenti membanting tulang dan mengendus wangi melati.
Berhenti untuk pulang dan mengamini.
Dibasuh-Nya bekas jejak kaki dengan curahan tangis awan seharian,
supaya kita yang salah jalan kemarin tidak kembali pada setapak yang sama,
supaya janji memperbaiki diri dan mengubah arah bukan hanya rancangan,
supaya walaupun tidak ke mana-mana jadinya tidak tersesat jua.

Tentang hari yang dingin berangin dan bahkan siang yang menyerah tanpa perlawanan.
Dalam mendung aku bercakap dengan Bapaku.
Tidak di rumah-Nya, kujamu di rumahku.


1Puisi1Hari: #20 Sekarang, Kita

Kapan lagi waktu yang sahih selain saat ini
untuk berterima kasih dan sungguh mensyukuri,
bahwa tidak semua sejodoh sanggup melangkah berdua
beriringan memekarkan nafsi bersama,
berselaras akal, rasa, dan kekayaan sukma.
Bahkan bentangan jarak jasmani kian meneguhkan,
karena terpisah bukan berarti hilang arah dan tujuan
ketika sauh hati sudah kukuh ditambatkan.

1Puisi1Hari: #19 Bagaimana



Lengket -- namanya melekat di otak
Diusir pasir pun bergeming
Disapu ombak pun bertahan
Bagaimana cara melupanya?



Senin, 31 Oktober 2011

1Puisi1Hari: #18 Lelaki

Usah kauminta belaian dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Tanpa ucapmu, lidahku suah mulai menggerayangi.
Siapa hendak menolak disuguhi ciptaan rupawan seperti ini?
Usah kautanya waktu yang sudah kita lewati.
Aku mau menikmatimu tanpa melihat arloji.
Hanya ingin mengecap sedap, pelan-pelan, pelan sekali.
Hampir seperti stagnasi.
Tanpa ejakulasi.

1Puisi1Hari: #17 Ganda, Ternyata

Tidak ada yang lebih menyiksa dibanding raga gelepar mencari udara.
Ternyata.
Sesak menagih akan O2, paru-paru memompa hampa.
Terasa dingin saat darah mengucur dari dada.
Genangan merah menjalar di ubin, di tembok, dan sela-sela.
Pada kilau pisau dia berkaca.
Oh, begini rasanya.
Ternyata.
Meninggalkan sakit dan menagih cinta pada Sang Pencipta,
aku membunuh pribadiku yang ke-dua.

Rabu, 26 Oktober 2011

1Puisi1Hari: #16 Epilog

Sepersekian sekon adalah jeda yang terpanjang, ketika pergi adalah penantian untuk waktunya pulang kembali.

1Puisi1Hari: #15 Monolog

Aku melempar makian pada hempasan kutang yang kuyup peluh di lantai kamar
-- berbagi teriknya jam tiga sore dengan tirai jendela yang kian menguning.

Menunggal tidak pernah terasa segerah ini
-- ketika matari bukan lagi mengulum senyum, tapi tanpa santun pamerkan gigi.